Selasa, 02 Juni 2015

Sejuta Pesona Jogja

Minggu, 31 Mei 2015. Adalah salah satu Minggu baru nggak bakalan gue lupakan. Seperti yang gue tulis sebelumnya, gue bakalan cerita sehari di Jogja kemarin. Sebenernya gue ke Jogja karena acara sekolah, mungkin ini sebagai hadiah refreshing karena udah mati-matian belajar. Oke, gue mulai ceritanya...




PERHATIAN : Sebelum cerita gue mulai, gue mau ngasih info kalo postingan ini terdapat banyak foto-foto pamer, walaupun kebanyakan nggak bagus. Dan perlu diingat, gue nggak ngedit satupun foto disini.



Sabtu Malam, sebelum paginya berangkat gue udah siap-siap. Gue sempat dibingungkan buat bawa apa, gue bingung bawa baju ganti yang mana, gue bingung bawa peralatan mandi atau nggak. Dan akhirnya gue bawa, keputusan yang sia-sia karena nantinya gue cuma ganti baju, dan cuci muka. Nggak mandi sama sekali. Satu-satunya barang yang udah pasti gue bawa adalah si Cam dan tripodnya. 



Minggu Pagi, gue bangun pagi-pagi, kali ini karena sengaja udah masang alarm. Dengan masih mengantuk, gue membangunkan satu-satunya orang di keluarga gue yang bisa naik motor dengan kecepatan 100km/jam tanpa takut jatuh. Ayah. Gue minta diantar. Setelah mandi, sarapan, dan siap-siap gue berangkat dari rumah jam 6.10, secara teknis gue udah terlambat karena pengumuman sebelumnya ngewajibin gue sampai di sekolah pukul 6.00. Tapi kenyataanya, bis baru berangkat setelah menunggu yang belum datang dan briefing yang seolah nggak penting. Jam 7.30!



Pejalanan Berangkat
Di dalam bis, gue duduk di bagian kanan baris ke-empat. Gue duduk bersama salah satu personil band yang sudah terkenal (paling nggak di kalangan SMP N 30). Budi, nama asli (bukan samaran). Bis belum lama berjalan, dan tour guide udah mulai bicara. Setelah perkenalan dengan tour guide, driver, dan co-driver, lagu dangdut pun di play. Lagu yang bikin gue nggak bisa tidur selama perjalanan berangkat ini.


Outbond
Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan dan di"jejali" dengan lagu-lagu dangdut, akhirnya gue dan rombongan sampai di tanah-rumput-luas yang nantinya bakalan kita buat outbond. Outbond pun dimulai, rombongan di arahkan untuk membuat lingkaran besar, sangat besar malahan. Sebelum game-game dimulai, seperti biasa, kita di"ajak" untuk senam otak. Tujuannya simpel, untuk mengembalikan kesadaran-kesadaran kita yang udah mabuk atau tertidur. Setelah senam otak yang bahkan gue nggak perlu karena gue nggak tidur dan nggak mabuk juga, rombongan diarahkan untuk membuat kelompok dengan anggota 15 orang. Dan sialnya, gue ditunjuk (baca : dipaksa) untuk jadi ketuanya. Singkat cerita, setelah game-game yang membuat seluruh badan keringetan ini selesai, rombongan kembali ke bis untuk ngelanjutin perjalanan untuk ishoma.

Balik ke bis!

ini pemandangan yang ada di sebelah kiri tanah-rumput-luas tadi


Perjalanan ke Restoran Untuk Makan Siang
Di bis, gue langsung melemparkan tubuh gue ke kursi, menyalakan AC dan mencoba bersantai. Gue tanya ke tour guide bis 3, Om Han. "Kira-kira berapa jam sampai ke rumah makan, om?" "Palingan 30 menit, dek." Oke, gue nggak jadi tidur. Akhirnya gue cerita-cerita dan ketawa-ketawa sama Budi. Lagu dangdut kembali diputar, ibu-bapak guru yang ada di depan udah siap-siap buat karaoke-an. Perjalanan kembali dimulai.


Sholat dan Makan Siang
Sesampainya di rumah makan, gue dan Budi langsung menuju ke arah Mushola. Udah disepakati sebelumnya di bis kalo gue dan Budi akan sholat duluan. Dan sialnya (lagi), gue ditunjuk (dipaksa!) untuk jadi imam. Jujur aja gue grogi dan bukan imam yang baik. Setelah sholat, gue, Budi, dan George (nama asli) menuju tempat makan. Strategi gue dan Budi untuk sholat terlebih dahulu berhasil, meja makan udah agak sepi dan kita leluasa mengambil makan. Gue nggak mengambil satu fotopun saat sesi makan, keputusan yang udah gue tetapkan dari kemarin malam. Setelah selesai makan, kita kembali ke bis untuk melanjutkan perjalanan. Gue dan Budi ke bis 3 dan George ke bis lain (karena nggak tau bis berapa). Tujuan kita selanjutnya, Malioboro.


Perjalanan ke Malioboro.
Kembali ke bis, lagu kembali akan di play, kali ini bukan dangdut tapi lagu lawas dari tahun 70-an. Setelah 3 lagu diputar, beberapa suara dari belakang protes, "Bu, ganti dangdut aja!" Entah karena mereka suka dangdut atau nggak mudeng lagu lawas tahun 70-an. Gue menimpali, "Iya bu! dangdut aja, yang ini nggak mudeng!". Ibu-bapak guru yang lagi asik karaoke-an sedikit terusik, tapi mereka tetap cuek, lagu lawas tetap dilanjutkan. Ini berarti telinga gue dipaksa mendengarkan lagu yang artinya aja nggak gue ngerti selama beberapa jam kedepan. Ini sih, mau tidur juga nggak bakalan bisa!

Karaoke-an aja terus bu..


Malioboro

Di Malioboro ini, gue membuat sebuah kelompok kecil beranggotakan 5 orang. Mereka adalah gue, Budi, George, Damar, dan Rizal.
Damar, Budi, George, Rizal, Gue.
Kelompok kecil gue memutuskan untuk jalan dulu sepanjang jalan Malioboro. Ternyata di Malioboro sedang digelar acara Jambore Pencak 2015 (hasil tanya sama mas-mas), Jadi ada sekitar 7.000 pesilat dari daerah-daerah di Indonesia (dari mas-mas yang gue tanyain, makasih mas.). Nggak cuman itu, yang bikin gue kagum adalah ada bule yang dengan lihainya memperagakan 1-2 jurus silat! Bayangin aja, bule-bule yang lahir di belahan benua lain sampai mau belajar budaya kita. Gue kagum sekaligus malu.



Setelah puas liat festival, gue dan kelompok memutuskan untuk masuk. Di sepanjang jalan ini gue sibuk cari momen-momen yang pas buat di foto, dan gue hampir ditinggal sendirian. Gue panik, celingukan nggak tau harus ngapain. Akhirnya gue cari mereka, mondar-mandir, dan kampretnya mereka ternyata cuman masuk ke toko depan posisi awal gue panik.


Di Malioboro, gue cuma beli kaos untuk adik yang belakangan gue tau kalo kekecilan. Yah, gue memang bukan kakak yang baik. Setelah puas bebelanja dan mengambil foto, gue dan kelompok kecil gue kembali ke bis (sebenernya karena waktunya udah mepet aja). Gue, Budi, dan Rizal ke bis 3 sedangkan Damar dan George ke bis lain (nggak tau bis berapa). Perjalanan ke Sendratari Ramayana pun dimulai.


Mampir Makan Malam
Dari Malioboro rombongan mampir ke rumah makan untuk makan malam. Lagi-lagi gue yang sok akrab sama guide tour tanya, "Om, sekalian sholat Maghrib nggak?" "Nggak usah, nanti aja disana." Gue yang sebenernya masih bingung "disana" itu mana cuman manggut-manggut nggak jelas. Seperti yang gue bilang sebelumnya, waktu makan adalah waktu temen-temen gue terbebas dari ancaman kamera. Setelah makan, gue memutuskan untuk mencuci muka gue yang udah berminyak dan bau keringat, karena gue nggak diperbolehkan mandi.


Perjalanan ke Sendratari Ramayana
Perjalanan kembali di mulai. Gue udah panik duluan, apakah musik lawas tahun 70-an akan di play lagi? Ternyata nggak, mungkin ibu-bapak guru ngerasa kasian kalo telinga kita di"jejali" lagu-lagu yang sangat-sangat-sangat puitis itu, atau mungkin karena mereka udah capek karaoke-an. Dangdut pun kembali diputar, dari arah belakang bis terdengar suara siulan keras, persis kayak orang yang lagi saweran. Bis pun ramai, dan lagi-lagi gue nggak bisa tidur.


Mampir (lagi) ke Pusat Oleh-oleh
Gue bingung. Loh, kok ke pusat oleh-oleh lagi? Bukannya udah tadi di Malioboro? Tanya gue dalam hati. Bagai punya kekuatan supernatural, Om Han udah menjelaskan terlebih dulu, "Kita mampir dulu, buat yang tadi belum sempet beli oleh-oleh, sama yang mau sholat." Oooh, jadi ini arti kata "disana" itu. Gue dan Budi pun sepakat untuk sholat terlebih dahulu. Kali ini nggak karena strategi apa-apa, tapi karena pemandangan yang kita lihat membuat kita malas untuk masuk ke toko.
Lautan manusia.
Setelah sholat, gue memutuskan untuk mencoba eksperimen bareng si Cam dan tripodnya. Light Trails. Sedangkan Budi memutuskan untuk beli oleh-oleh dan kembali ke bis.
Light Trails gadungan.
Saat gue sedang asik-asiknya bereksperimen, datanglah temen-temen gue yang kepo dan nanyain gue lagi ngapain. Setelah gue liatin foto diatas mereka minta untuk difoto dengan cara yang sama. Oke, itung-itung talent gratisan.
Talent : Lambang Galih A.
Talent : Bivansyah Wiranata
Setelah puas ngambil light trails, gue lagi-lagi hampir ditinggal sama rombongan. Dengan setengah berlari gue menuju ke bis. Gue teriak (dalam hati), "Tungguuu, jangan tinggal gueee!!". Si supir menghentikan bisnya, entah karena denger teriakan (dalam hati) gue atau emang kasian. Jalan lageee!


Sendratari Ramayana Prambanan
Sesampainya di Prambanan, rombongan langsung diarahkan untuk masuk. Rombongan SMP 30 duduk di bagian F sebelah kiri. Dalam hati, kalo gue nanti kesini lagi gue akan memilih duduk di bagian A. VIP.

Akhirnya detik-detik acara puncak tour ini akan dimulai. Gue udah ready sama si Cam dan tripodnya. Pertunjukan pun dimulai, pertunjukan yang bikin penontonnya mikir keras, pertunjukan yang nantinya memicu pertengkaran-pertengkaran kecil antara gue, Budi, dan Luqman. Sendratari Ramayana Episode 3 : Gugurnya Kumbakarna.

Gue bakalan cerita dari sudut pandang gue dan hasil diskusi ngeyel-ngeyelan sama Budi dan Luqman.


PERINGATAN KEMBALI : Cerita ini menggunakan banyak foto yang kebanyakan blur dan full noise karena over ISO. Jadi, buat kalian yang nggak biasa liat foto jelek jangan lanjutkan.

Pentas dibuka dengan nyanyian sinden dan tarian-tarian pasukan manusia Rama. Saat ini, gue lagi sibuk nge-setting si Cam dan tripodnya, jadi belum terlalu fokus dengan cerita. Lalu pasukan Rama dan penari-penari yang dilambangkan sebagai air masuk. Disini, ceritanya pasukan Rama ingin menyebrang untuk sampai ke Alengka, kerajaan Rahwana. Cara pertama yang Rama lakukan adalah dengan menembakkan panahnya untuk menguras lautan. Tapi dengan cara ini Rama malah kena marah dari Dewa Laut, lalu Rama mengembalikkan air dengan cara yang sama, menembakkan panah.
Mbak-mbaknya yang pake selendang dilambangkan sebagai air.
Karena cara menguras laut nggak berhasil, Rama memikirkan cara lainnya. Hingga akhirnya dia menyuruh pasukan keranya membangun jembatan dari batu. Tarian-tarian dari kera ini sangat luwes, gue sampai ngomong, "Ck ck ck ck, kera aja bisa nari, kok gue enggak ya..?" Pasukan kera bahu-membahu untuk membangun jembatan batu. Sampai jembatan selesai dan mereka dapat menyebrang.


gerakan khas pasukan kera. Loncat sana loncat sini. Keren. 
Cerita dilanjutkan dengan cerita di kerajaan Alengka. Utusan Rama yang bernama Anggada datang ke hadapan Rahwana untuk berdiskusi, tapi niat itu di batalkan karena Rahwana yang ingin membunuh Anggada. Tapi ketika Rahwana ingin menghunuskan kerisnya, dia dicegah oleh adiknya sendiri, Kumbakarna. Atas perbuatannya ini, Kumbakarna diusir oleh Rahwana.

Rahwana
Menghunus keris
Kumbakarna
Karena sambutan yang nggak baik dari Rahwana kepada Anggada, terjadilah perang besar antara Alengka dan pasukan kera. Pertarungan berlangsung sengit, awalnya seimbang, lalu dilanjutkan dengan lumpuhnya pasukan kera gara-gara panah dari Indrajit yang mengeluarkan ular-ular cantik.
Pasukan kera Rama.


Ular-ular cantik yang dikeluarkan Indrajit.
Pasukan Rama nggak menyerah begitu aja. Dari pasukan Rama muncul Wibisana yang membalas panah ular Indrajit tadi dengan panah yang mengeluarkan elang atau garuda (kata guru sejarah gue). Para elang atau garuda itu datang untuk memakan ular-ular cantik. Gue sempet nyeletuk, "Ularnya cantik banget, kalo gue digigit juga gak papa deh." yang dibales tatapan sinis dari orang yang duduk di sebelah gue, Budi.
Elang-elang Wibisana.
Setelah pasukan Rama sadar dari kelumpuhan mereka akibat ular (ribet amat!). Adegan dilanjutkan ke pertarungan Indrajit vs Laksamana. Pertarungan begitu sengit dan menegangkan. Musik dari gamelan dan sorotan lampu yang sesuai menambah keseruan dan kekeranan.

Laksamana
Indrajit


Dilanjutkan dengan adegan Kumbakarna vs Sugriwa. Pertarungan digambarkan Kumbakarna memakai gada dan Sugriwa dengan tangan kosong. Sama seperti sebelumnya, pertarungan berlangsung seru dengan sedikit tambahan komedi ala wayang. Sugriwa terdesak dan hampir kalah, akhirnya dia mundur dari pertarungan dengan Kumbakarna.




Setelah Sugriwa mundur dari pertarungan dengan Kumbakarna, pasukan kera muncul dan menyerang Kumbakarna. Karena terlalu kuat, Kumbakarna tidak dapat dikalahkan oleh pasukan kera. Saat itulah Laksamana datang membantu, dengan busur pemberian Rama dia bertarung dengan Kumbakarna.

Pasukan kera yang mental gara-gara Kumbakarna



Setelah berhasil melumpuhkan tangan dan kaki Kumbakarna, Laksamana mengembalikan busur kepada Rama dan mempersilahkan Rama untuk membunuh Kumbakarna. Dengan satu anak panah, Rama menarik tali busur dan melepaskannya. Creb! panah itu menusuk tepat di jantung Kumbakarna. Kumbakarna akhirnya mati dan arwahnya dijemput oleh bidadari-bidadari.



Gue sempet nyeletuk lagi, "Kumbakarna yang jahat aja dijemput sama bidadari yang cantik, masa gue nggak..." Bedanya, kali ini nggak ada yang menanggapi gue. Mereka terhipnotis dengan penampilan yang Maha Luar Biasa ini.

Setelah pentas selesai, seperti yang udah gue duga sebelumnya, para penonton di persilahkan naik ke atas stage. Gue mengangkat tripod beserta si Cam dan langsung lari ngibrit ke arah panggung. Luqman mengikuti dari belakang. Diatas panggung, baru gue penonton yang ada, dengan rasa deg-degan gue dengan gaya sok  wartawan mengambil foto bareng.

Rama nya udah tua ternyata, gue panggil om aja deh...

Budi dan Kumbakarna

Gue dan Kumbakarna

Setelah puas foto bareng, rombongan kembali ke bis. Masih dengan perasaan takjub, gembira, dan nggak percaya gue kembali mendudukkan pantat ke kursi. Bersiap untuk kembali, ke Semarang.


Perjalanan Pulang
Bis berangkat menuju Semarang pukul 21.30. Lampu diredupkan, lagu-lagu udah nggak di play lagi seperti tadi. Gue yang emang udah capek mencoba untuk tidur. Tapi, kenyataannya gue susah untuk tidur dan memutuskan untuk menikmati perjalanan. Gue baru bisa tidur jam 23.20 setelah menutup kepala gue dengan jaket. Nggak lama setelah itu, gue dibangunkan oleh suara kresek-kresek berisik dari arah depan. Davi. Gue liat dia lagi foto-fotoin orang yang lagi tidur, gue bangun disaat yang tepat. Gue liat si Io, jam 23.40. Kampret, gue tidur 20 menit doang. Yah, setelah itu gue nggak bisa melanjutkan tidur karena gue takut kena jepret dan emang udah nggak ngantuk lagi.

Sesampainya di rumah, gue langsung mandi (gue jadi tau rasanya mandi jam 1 lewat) karena badan lengket semua rasanya. Setelah ganti baju gue melompat ke kasur untuk mengistirahatkan kaki gue. Masih kebayang adegan-adegan pentas tadi, masih kebayang wajahnya Om Rama sama Om Kumbakarna, masih kebayang bule yang sangat lihai dengan jurus silatnya, masih kebayang bau kain sablon kaos-kaos Malioboro. Dan gue nggak akan pernah lupa momen canggung gue waktu outbond (gak usah diceritain!).

Pokoknya seharian ini nggak bakalan gue lupakan. Seharian yang ngebuat kaki-kaki gue kaku setelahnya, seharain yang seru sama temen-temen, dan ditutup dengan acara puncak yang, Maha Super Keren. Gue gak bakal Lupa!

Sabtu, 30 Mei 2015

Saat Ini...

Saat Ini ber-isi tentang kebingungan-kebingungan, keresahan-keresahan, kebimbangan-kebimbangan, dan ketakutan-ketakutan gue terhadap hal-hal yang terjadi saat perkembangan jaman. Jadi ini juga bisa disebut curhatan gue, sabar aja deh kalo baca ini. Udah ah, kebanyakan intro nggak seru, langsung aje!



1. Saat ini, bumi udah makin tua. Bahkan saking tuanya mungkin gue harus manggil bumi dengan sebutan "mbah". Gue pernah baca kalo planet udah ke-tua-an  nanti bakalan meledak.... eh, itu planet apa bintang ya? Bentar *browsing*. Oke, ternyata itu bintang, gue salah informasi. Yah, pokoknya Bumi kita semakin tua. Tapi kenapa banyak yang malah nyakitin Bumi? Penebangan hutan, polusi kendaraan bermotor, polusi dari orang yang nge-rokok, sampai limbah pabrik yang mencemari tanah, air, udara, dan api. Kenapa manusia bisa sejahat ini? Kasihan mbah Bumi. Bumi udah ngasih kita segalanya yang kita butuhkan, tapi kita ngasih apa ke mbah Bumi? #PoorGrandpaEarth.



2. Saat ini, manusia udah mulai gila. Kalian pasti udah pada ngerti apa maksud gue. Bukan-bukan, gue nggak gila. Ya, sekarang manusia udah nggak mikirin baik-buruk. Semuanya dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Bingung aja, beras dicampur plastik, susu dicampur deterjen, brownies dimasukin ganja, tahu dikasih formalin, lah gue makan apa nanti? GILA.

Makan apa gueeeee...?! Sumber : MCI
3. Saat ini, gue lagi bingung apa yang bakalan gue tulis untuk nomer tiga. Tapi, tau-tau udah keisi sendiri, yaudah deh. *krik* *krik* *krik* Oke gak lucu.

4. Saat ini, gue lagi bingung sama sensor film di Indonesia. Sekarang, film apa aja di sensor, bahkan kartun pun ikutan di sensor. Mukul dikit desensor, rokok dikit sensor, ngomong kasar dikit disensor, darah dikit disensor, segalanya disensor. Bukannya apa-apa ya, tapi kesannya jadi keliatan cemen aja generasi ini. Lucunya, sensor di Indonesia waktu adegan "pukul-cut-jatoh". Si Jerry udah siap-siap ngangkat wajan buat mukul Tom, dan CUT! Tau-tau Tom nya udah jatoh. Naruto mau mukul musuhnya, belum kena tiba-tiba musuhnya udah jungkir balik di tanah. What The...!?

Sumber : MCI
5. Saat ini, gue lagi ditakutkan dengan ramalan-ramalan yang tersebar di internet, yang udah di copy-paste puluhan blog. Yang mbah Bumi mau nabrak planet lain lah, yang inilah, yang itulah, tapi yang paling menakuti gue adalah ramalan tentang suhu di Bumi akan naik sampai 59 derajat celcius di pertengahan November nanti. Bayangin aja! 59 derajat men, 59 derajat! Yah, percaya-nggak percaya sih. Sebenernya gue juga nggak percaya sama yang begituan, tapi akhir-akhir ini kalo gue keluar rumah 3 menit aja rasanya udah kayak di neraka..... eh, emangnya gue udah pernah ke neraka? Belum.

6. Saat ini, gue bingung barang-barang apa aja yang gue bawa buat ke Yogya besok. Minggu besok sekolah gue mengadakan 'tour' ke Yogya, gue bakalan outbond dan nonton Sendratari Ramayana. Pasti bakalan seru dan ada banyak cerita yang bakalan gue share. Lah, gue kok malah cerita sendiri gini... ah, sudahlah. (sebenernya cuman akal-akalan penulis biar keliatan banyak).

7. Saat ini, rokok udah jadi nomer satu faktor ke-tidak nyamanan gue. Gue orangnya nggak tahanan, kalo ada orang ngerokok di sebelah gue, gue langsung pergi. Yah, bisa dibilang gue pembenci nomer satu rokok. Bayangin aja, sekarang udah nggak cuman orang tua aja yang ngerokok. Anak seumuran gue atau bahkan yang lebih muda dari gue udah pada ngerokok. Waktu itu pernah, gue di angkot waktu pulang sekolah. Ada anak yang pake seragam SMP masuk ke angkot dengan santainya sambil bawa rokok yang masih menyala. Gue lirik badge sekolahannya, "Oooh, SMP "X". Pantes.." terus gue lirik lagi badge kelasnya, "What!?, masih kelas 7!!?" Gile, masih kelas satu SMP udah ngerokok. Gue benci rokok, dan perokok.

Tapi waktu itu dia sendirian sih...
8. Saat ini, kualitas pendidikan di Indonesia udah semakin terpuruk. Bukan masalah kualitas pelajaran atau pengajarnya, tapi kualitas muridnya. Flashback waktu UN deh, sekarang UN udah nggak mengerikan seperti dulu. Kunci berterbangan dimana-mana. Buat apa belajar 3 tahun kalo akhir-akhirnya ngandelin kunci? Terus gimana nasib yang belajar mati-matian tiap hari? Jujur aja, waktu gue tau kalo ada yang make kunci gue marah besar *JEDEEERR!!* Eh, ini serius. Gue marah tapi cuman diem-diem aja, jujur gue orangnya penakut. Masa iya gue ngamuk di sekolahan? Kan nggak lucu.

9. Saat ini, gue lagi-lagi ditakutkan dengan fenomena alam baru-baru ini. Suara-suara aneh terdengar di benua Eropa. Entah ini beneran atau nggak, banyak yang memperdebatkan suara apa ini? Ada yang bilang itu suara 'sangkakala', terus dibantah kalo itu suara dari dalam bumi. Yah, semua orang punya pandangan dan cara berpikir berbeda-beda. Gue adalah salah satu orang yang setuju kalo itu fenomena alam. Bukan 'sangakakala'. Waktu pertama kali liat video tentang ini gue juga sebenernya takjub sekaligus merinding, ternyata bayak rahasia-rahasia alam yang belum terbongkar. Di lain sisi gue jadi tambah cinta sama alam semesta dan mbah Bumi ini. #LoveGrandpaEarth.

10. Saat ini, gue lagi mau closing. Untuk sementara, segini dulu kebingungan-kebingungan, keresahan-keresahan, kebimbangan-kebimbangan, dan ketakutan-ketakutan gue sekarang.

Selamat Sabtu malam!

Saat Ini...

Sabtu, 23 Mei 2015

One Day in Holiday

Bagi sebagian orang, liburan adalah waktu dimana mereka bisa pergi ke tempat wisata, eksplorasi ke tempat baru, hunting banyak foto, sampai menginap di hotel atau resort. Paling enggak itu yang sebagian orang lakukan saat liburan.

Ya, gue sekarang lagi liburan. Sebelum liburan panjang ini, udah kebayang di kepala gue hal-hal apa aja yang bakalan gue lakukan nantinya. Kurang lebih sama kayak yang diatas. Tapi...


Ekspektasi nggak seindah Realita!


Liburan gue membosankan. Nggak pergi ke objek wisata, nggak ekplorasi tempat baru, dan nggak nginep di hotel manapun. Dan yang paling parah, gue nggak sepenuhnya liburan, gue diwajibkan masuk sekolah setiap hari Selasa dan Jum'at. Padahal, di sekolah juga nggak ngapa-ngapain. Gue dan temen-temen pengemis wifi cuman main di tempat yang gue sebut "basecamp". 

"basecamp" (baca : Lobby sekolah)
Tapi liburan gue berubah ketika negara api menyerang gue diajak keluar kota, tepatnya ke sebuah kota bernama Pemalang *mendadak puitis*. Jum'at sore, gue dikagetkan dengan suara teriakan ibu, "Kaaaaaakkk, bajunya disiapiiiiinn!!" Gue yang lagi santai-santai di kamar cuman bisa nurut sambil tanya. "Emangnya mau kemana?" "Ke rumah Eyang." Jawaban yang singkat. Gue yang emang udah bosen di rumah semangat banget milih baju mana yang bakalan dibawa. Tapi, lagi-lagi...



Ekspektasi nggak seindah Realita!



Hari Sabtu, seharian di Pemalang ternyata gue nggak kemana-mana. Di rumah, mondar-mandir, main sama adek-adek, ngobrol sama om dan tante, nge-post di blog #TetepKonsisten. Huaaaahhh gue bosen!

Hari Minggu. Pagi itu, nggak seperti biasanya, gue bisa bangun pagi. Gue jadi heran sendiri, tumben gue bangun pagi di hari Minggu. "Mungkin ada hikmah tersendiri..." pikir gue. Nggak lama setelah gue mikir gitu, gue denger suara mobil di starter. Mau kemana nih? Gue tau, kalo yang nyetarter itu ibu gue, berarti dia mau belajar nyetir. Kalo belajar nyetir, di Pemalang cuman ada satu tempat favorit ibu gue, Pantai Widuri. Ah, daripada cuman di rumah mending gue ikut. Di bangku supir udah duduk manis Ibu gue yang sok bisa mau belajar nyetir. Di sebelahnya ada Ayah gue yang jadi "mentor" gadungan nya. Dan gue, duduk di belakang Si "mentor". Kurang lebih gini denahnya.

maklum lah, namanya juga paint.

Singkat cerita, perjalanan ke pantai pun dimulai. Awalnya semua berjalan lancar, hingga mobil sampai di depan gang. Belum juga keluar gang, masih di mulut gang persis. Ibu gue udah grogi duluan, mesin udah mati tiga kali. Si "mentor" udah berkali-kali ngomong "Santai aja, santai.." Gue udah khawatir bakalan kenapa-kenapa. Setelah ngidupin mesin, gas diinjek pelan-pelan, stir dibelokkan ke kiri. Oke, ngelewatin gang berhasil. Eh... kenapa stirnya tetep belok ke kiri? Sadar akan hal ini, si "mentor" teriak, "Setirnya balikin lagi to, Mi!!!" Nggak tau karena kaget atau emang panik karena posisi mobil udah deket sama trotoar, bukannya ngerem dan ngembaliin posisi stir, Ibu gue malah menginjak gas lebih dalam. Otomatis mobil jadi makin cepet dan...

WUUUUUSSSHHHH!!
"AAAAHH!!!!"
BRAKKK!!
PRANGG!!
SRAAAAAKKK!!
"AAAAHHH!!"

Gue ngerasa di film Fest&Furyus.

Mobil menghantam becak kosong yang ada di pinggir jalan, kaca spion pecah dan terbang sampai bangku belakang. Semuanya panik. Karena Ibu gue masih belum menginjak rem, Si "mentor" teriak "DI REM TO, MI!!" Seketika itu mobil berhenti, gue tetep diem di tempat. Shock. Ayah yang jadi "mentor" dan Ibu gue langsung keluar untuk ngeliat keadaan mobil. Bagian kiri depan penyok besar, lecet panjang sampai ke belakang. Gue tau kalo ini sebuah pertanda, pertanda kalo gue nggak jadi ke pantai.

Percayalah, ini udah seminggu di bengkel.
Ternyata bener, gue nggak jadi ke pantai. Setelah transaksi yang agak lama, Ibu gue dan yang punya becak memilih jalur damai. Ibu gue mengganti becak yang ditabrak sampai rusak itu dengan becak yang baru. Dan becak yang ditabrak itu jadi becak keluarga besar gue. Ternyata becaknya nggak begitu rusak, cuman sedikit penyok di pelek dan bodynya. Masih bisa dipakai.



Liburan kali ini emang nggak terlalu menyenangkan. Tapi gue sadar, kalo liburan itu adalah waktu dimana kita melepas lelah dan berkumpul bersama keluarga atau temen-temen terdekat. Kayak gue yang biasa ngumpul di "basecamp" bareng temen-temen, ngobrol ngalor-ngidul, bercanda, nonton film sampai sore, sampai ketiduran dibangku karena anginnya sepoi-sepoi. Kayak gue yang ke Pemalang karena ada acara keluarga yang ngewajibkan semua dateng, main sama sepupu yang biasanya nggak pernah ketemu, cerita pengalaman-pengalaman sama om dan tante. Itulah liburan.

Yah, emang sih Ekspektasi emang nggak seindah Realita, tapi terkadang makna dari Realita lebih indah dari Ekpektasi. #Azek.

Selamat Sabtu malam, dan selamat Liburan!

Sabtu, 16 Mei 2015

Art is Work

Salah satu hobi yang masih gue tekuni sampai saat ini adalah menggambar. Alasan gue suka gambar adalah karena gue suka anime. Tau sendiri kan, bagian paling penting dari anime adalah gambar. Ya iyalah!

Gue suka nggambar apa aja, gue suka nggambar ulang gambar yang udah ada, nggambar ulang foto, doodle, sampai nggambar pemandangan. Tapi, dari dulu sampai sekarang gue paling susah kalo disuruh gambar imajinasi, mungkin karena daya imajinasi gue rendah. Kebanyakan gambar-gambar gue mencontoh gambar yang udah ada (tracing, bukan njiplak!)

Gue mulai menggambar sejak TK, tentunya masih gambar dua gunung, sawah, sama jalan di tengah-tengah. Gue mulai nggambar karakter-karakter anime dari kelas 2 SD, waktu itu gue gambar Naruto. Gue masih inget banget gambarnya, muka bulet, kumis kucing, dan rambut lancip-lancip. Tapi sayang sekarang gambar itu udah ilang, nggak tau kemana.

Buat yang penasaran gimana gambar-gambar gue, nihh...

Versi gambar

versi foto
Ragna. Sekarang udah nggak tau kemana...

Waktu lagi booming-nya Attack On Titan

Keren yaa...





Yang udah diwarnain juga ada...

Remake cover vol.60

Remake cover vol.40

Ada juga yang pake imajinasi sendiri, tapi kebanyakan dari mereka malah jadi gambar-gambar absurd.

Absurd kaan...
Ghoul handmade :D
Nah, itu tadi adalah beberapa dari koleksi gambaran gue. Sebenernya masih ada banyak banget gambar-gambar gue yang lain, takut kuota abis jadi nggak usah aja yaa..

Banyak banget pelajaran dan manfaat yang gue dapet dari menggambar. Jadi nambah temen dari grup FB, kreativitas gue diasah,  harus sabar kalo mau hasil perwanaan halus, dan lain-lain. Gue juga jadi tau satu hal, seni itu butuh ketelitian dan kesabaran men! Nggak bisa asal-asalan aja, makanya itu butuh waktu yang nggak sebentar juga...

Udah lama gue nggak megang peralatan gambar, pengin gambar lagi belum ada kesempatan. Alat-alat udah pada berdebu, mungkin skill menggambar gue udah turun. Drawing pen udah pada ilang, pensil mekanik udah pada ilang, kayaknya gue harus siap-siap alat baru lagi nih. Udah ah, mau cari alat lagi!

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 09 Mei 2015

Main Game - "Stranded Deep" Terdampar di Pulau Terpencil

UN UDAH SELESAAAAIII!

Sekarang gue tinggal nunggu hasilnya sambil deg-degan. Yah, daripada gue stress nggak berarti mendingan gue buat segmen baru di blog absurd ini, segmen "Main Game". Kenapa tentang game? Ya, karena salah satu hobi terpendam gue nge-game. Lagian siapa sih yang nggak suka game?

Game pertama yang gue bahas di segmen ini adalah game yang baru gue dapetin. Nama gamenya "Stranded Deep". Awal mula gue tau game ini waktu gue iseng browsing game-game baru. Ketemulah game ini, gue baca sinopsisnya, dan akhirnya gue tertarik untuk download.

Stranded Deep.

Pertama kali main game ini, gue disuguhi intro yang menarik. Jadi di game ini, gue mengontrol (baca : mainin) satu karakter yang nggak diketahui namanya--wajahnya juga enggak--. Dia lagi dalam perjalanan, nggak tau juga mau kemana karena nggak dijelasin sama sekali. Yang jelas karakter yang gue kendaliin ini orang kaya, soalnya dia naik jet pribadi.

Tiba-tiba dalam perjalanan di tengah badai tanpa tujuan yang jelas, jet pribadi ini kehilangan kendali. Pintu pesawat itu meledak, nah kalian pasti tahu apa yang terjadi kalo pesawat bocor? Jatuh. Dalam kecelakaan ini,si karekter selamat dan menemukan sebuah perahu karet beserta dayungnya. Setelah gue (si karakter) naik ke perahu karet, ada hal yang paling dibenci sama gamers manapun muncul... LOADING. Setelah loading, gue diarahin untuk menepi ke sebuah pulau terpencil.

Ya seperti yang orang terdampar kaya di film lakukan, gue cuma diem di tempat nungguin kapal lewat. Setelah seharian nungguin kapal nggak ada yang lewat satupun. Gue mulai putus asa dan memutuskan untuk browsing gimana cara biar selamat. Ternyata game ini bertujuan buat ngajarin kita survive! Di awal gue terdampar, gue cuma dikasih sebuah pisau lipat, sebuah lighter, sebuah jam tangan, sama botol plastik berisi beberapa teguk air.

Gila! mana bisa gue bertahan hidup pakai peralatan seadanya gitu?!

Ternyata gue salah. Di game ini kita bisa membuat barang-barang kayak kapak, palu,tombak, gubuk, getek (baca : rakit), pisau, api unggun, tempat tidur, dan lain-lain. Di game ini gue ngerasa kembali ke jaman purba, yang semuanya serba tradisional. Di game ini gue juga ngelihat pemandangan alam yang keren.

Gue juga bisa ketemu hiu loh! Tapi di game ini gue cuma liat satu jenis hiu. Yaitu jenis Galeocerdo cuvier atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hiu Macan. Gue makin penasaran sama hiu ini, akhirnya gue browsing lebih lengkap tentang hiu ini. Ternyata, si Gale ini biasa dijumpai di sekitar pulau ditengah Samudra Pasifik. Itu artinya bisa dipastikan 90% gue sekarang ada di Samudra Pasifik. Gue jadi tambah tau dari game ini. Makasih game, makasih Gale.

Gale si Galeocerdo cuvier
Sebagian orang menganggap kalo game itu nggak mendidik, atau malah merusak perilaku kita. Gue nggak nyalahin pernyataan itu, gue cuman mau menambahi, game itu merusak kalo kita nggak pinter memilih mana yang negatif, mana yang positif. Buktinya, gue bisa tau kalo si Gale habitatnya di sekitar pulau Samudra Pasifik. Iya kan? #NgegameSambilBelajar


Selamat Sabtu malam!