Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Life. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2016

[Bukan Review] Doctor Strange

Yak! akhirnya gue bisa curi-curi waktu dari jadwal gue yang super padat ini *yaelah*. Seperti biasa anak sekolahan seperti gue kalo nggak sibuk belajar ya sibuk nugas. GILA! ternyata kehidupan SMA begitu kejam, apalagi pake kurikulum 2013. Gue kayak mau mati. Tugas tertulis, tugas praktek, dan tugas-tugas lain yang nggak bisa gue sebutin satu-satu. BUANYAK BANGET! Bahkan hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya dipakai liburan, malah dipakai ngerjain tugas. Tapi seperti halnya manusia-manusia lain, gue juga butuh refreshing. Akhirnya gue cabut ke bioskop.

Bersama kedua teman, malam itu, malam Ming... eh, Sabtu malam. Gue berangkat ke bioskop di salah satu mall di Semarang. Kami berangkat selepas maghrib, dan sampai sekitar jam setengah tujuh. Seperti biasa, kami terlambat. Tiket yang diputar jam 7 sudah penuh. Akhirnya kami membeli tiket yang jam 21.20. Inu berarti kami harus menunggu dua jam lebih untuk masuk ke studio, dan bersiap pulang malam.

Dua jam lebih kami habiskan di KFC. Menghabiskan waktu dengan cerita dan tertawa. Ngobrolin apapun, siapapun. Dari temen-temen sekelas, guru-guru, sampai mak-mak kantin. Topik paling ramai ya masalah percintaan. Sayang gue gak bisa cerita banyak soal ini, karena dari lahir gue belum pernah ngerasain pacaran #curhat. Biasanya kalo udah gini, gue cuman jadi pendengar, dan penanya yang rajin. Tanya-tanya, gimana sih pacaran itu? Gak kerasa dua jam udah lewat dan masing-masing dari kami sudah menghabiskan float nya. Saatnya kembali ke bioskop.


[SPOILER ARLERT!]


Doctor Strange bercerita tentang seorang doktor bernama Stephen Strange yang hebat dalam mengoperasi pasien, tetapi sombong. Di awal film udah di perlihatkan kesombongan si Strange. Dokter mana yang sedang operasi malah ngedengerin musik klasik? Cuma Dr. Strange. Tapi suatu ketika, Dr. Strange mengalami kecelakaan lalu lintas dan kehilangan sebagian kemampuan saraf di tangannya. Jadi tangannya jadi tremor gitu. Nah, dari situ dia frustasi dan menghabiskan uangnya untuk menyembuhkan tangannya.

Sampai suatu saat, ketika hartanya semakin menipis, dia diberitahu untuk pergi ke tempat penyembuhan mujarab bernama Kamar-Taj. Ternyata Kamar-Taj adalah tempat pelatihan para penyihir-penyihir yang dipimpin seseorang yang disebut "The Ancient One". Di sana Dr. Strange melakukan latihan untuk mendapatkan kemampuan tangannya lagi.

Di film ini yang jadi mushnya Kaelicus... Kaelicius... apalah itu. Gue lupa. Dia berniat membuka gerbang antar dimensi dan membebaskan Dormammu, penguasa dimensi gelap. Tapi-dengan kepintarannya Dr. Strange bisa ngalahin si Kael dan Dormammu.

Oiya, film superhero Marvel gak lengkap tanpa kehadiran Stan Lee sebagai cameo. Di film ini Stan Lee digambarkan jadi orang tua yang sedang baca koran. Film Marvel juga gak lengkap tanpa credit scene yang bikin penasaran. Penasaran ya? Makanya nonton. ehehehe...

Yah, filmnya bagus. Visual efek nya GILAK! Ada satu scene dimana kota New York dibalik-balik. Sayang gue gak nonton 3D. Buat kalian yang belum nonton, Dr. Strange SANGAT SANGAT SANGAT dianjurkan nonton 3D. Gue SANGAT AMAT MENYESAL nggak nonton 3D.

Nggak kerasa filmnya selesai. 114 menit terasa kurang buat film sebagus ini. Oiya, kemungkinan Dr.Strange bakal muncul lagi di Thor : Ragnarok. Jam 23.18 gue pulang, ini pertama kalinya gue pulang hampir tengah malam. Yah, gue kan anak baik-baik. :)

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 14 Mei 2016

[Bukan Review] Captain America : Civil War

Beberapa minggu ini kelas gue diributkan dengan berbagai macam hal. Yang diributkan macem-macem, kayak isi gado-gado. Ya, makanan lezat yang terdiri dari campuran sayur-sayuran lalu disiram dengan saus kacang yang manis menggoyang lidah. Hmm, gue jadi pengin gado-gado. Percayalah, paragraf ini gue buat semata-mata untuk menambah isi. Biar keliatan banyak gitu postingan nya.

Oke, balik ke topik awal!

Yang diributkan mulai dari pembagian kelompok bis acara Outclass, sampai nilai Ujian Tengah Semester yang mengkhawatirkan. Dari hal-hal penting seperti tentang bagaimana siput berkembang biak, sampai hal-hal yang nggak penting sama sekali seperti siapa guru tercantik di SMA N 6. Sampai pada suatu hari gue memulai sebuah percakapan.

"Eh, habis UTS jalan yuk!", Ajak gue. Padahal waktu itu UTS bahkan belum dimulai.

"Kemana?", Tanya beberapa temen kelas yang antusias.

"Nonton bioskop aja.", jawab gue.

"Nonton apa?"

"Gimana kalo Civil War?", usul gue.

Salah seorang temen cewek tiba-tiba teriak, "AADC 2, aja!"

"Yee, Civil War aja!", balas temen gue yang laki-laki.

"CW!"
"AADC 2!!"
"CW!!"
"AADC 2!!"

*GUE DIEM AJA

"CW!!!"
"AADC 2!!!"

*CIVIL WAR BENERAN.




***




Setelah disepakati bersama (sebenernya enggak). Geng perempuan memilih menonton AADC 2, sedangkan geng laki-laki memilih menonton Civil War. Kedua kubu akhirnya berdamai.

Setelah itu, gue bertanya lagi buat memastikan, jadi enggaknya acara nonton bareng ini. Mengingat acara-acara sebelum ini pasti gagal atau dibatalkan karena nggak ada koordinasi yang bener.
"Jadi mau nonton kapan?", mulai gue.

"Senin aja ya, setelah UTS terakhir.", usul salah satu suara.

"Eh, jangan duit gue belum cair kalo Senin. Rabu aja sehabis Outclass hari Selasa." bantah seseorang lagi.

Gue baru tau kalo anak SMA jaman sekarang menerima uang saku sama seperti orang gajian. Bulanan.

"Senin aja coeg!"
"Rabu aja !!"
"SENIN!!"
"RABU!!"

*GUE DIEM AJA

"SENIN AJA ANJ*NG!!!"
"RABU AJA TA**!!!" biasalah anak laki-laki suka ngomong kasar.

*CIVIL WAR BENERAN.


***


Dan akhirnya, disepakati bersama (sebenernya enggak) untuk nonton pada hari Rabu. Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Kami belajar, istirahat, bercanda, membaca buku, mengerjakan UTS, dan mengikuti outclass dengan hati yang riang. Sampai hari yang disepakati, setelah kegiatan outclass seharian, gue dan teman-teman masih diwajibkan masuk seperti biasa, mengikuti pelajaran. Karena berbagai alasan banyak yang absen pada hari itu. Total ada 15 murid yang berangkat dari keseluruhan 38 murid. GILAK! Nggak ada separonya.

Dengan amat terpaksa, acara nonton bareng diundur. Sampai waktu yang tidak ditentukan.

Akhirnya gue dan temen-temen bisa nonton pada hari Sabtu. Karena paginya gue dan temen-temen sekelas ada janji ketemuan di sekolah. Sehabis itu bisa langsung ke bioskop. Setelah pertemuan yang ternyata nggak menghasilkan apa-apa, gue dan beberapa teman akhirnya berangkat ke bioskop. Bayangin dari 10 orang laki-laki yang menyetujui ajakan gue beberapa minggu lalu, hanya 4 orang termasuk gue yang jadi nobar ke bioskop. GILAK! Nggak ada separonya.

Beberapa udah nonton sendiri, beberapa sudah kehabisan uang waktu outclass dan pergi liburan. Maklum waktu itu sedang long weekend. Gue sampai di bioskop sekitar jam 12-an, antre tiket, lalu memilih film dan tempat duduk. Seharusnya perkiraan gue masuk ke bioskop jam 2 siang, karena tiketnya habis gue terpaksa nonton jam 4 sore, dapat seat barisan depan lagi! Lengkap sudah penderitaan hari itu.

--Setelah lima jam menunggu--

[SPOILER ALERT!]



Di awal film, kita sudah disuguhi masa lalu 'Bucky' Barnes a.k.a Winter Soldier yang sedang dicuci otaknya sama organisasi jahat HYDRA. Gue gak bakalan cerita semua isi filmnya sih, karena pasti bakal jadi lama banget.

Inti ceritanya hampir sama sih sama versi komiknya (gue udah baca sih), si Ironman merasa bersalah karena kematian salah satu warga sipil, sedangkan si Capt. nggak rela identitas yang udah dijaga mati-matian dibocorin ke publik. Yah, keren sih filmnya. Si Vision sama Wanda "Scarlet Witch" udah keliatan tanda-tanda cinta, aneh juga mengingat Vision adalah manusia buatan. Kenapa manusia buatan bisa punya rasa cinta? Scott Lang "Ant-man" juga kocak banget walaupun cuman keliatan sebentar. Kemunculan pertama Black Panther yang lompat dari atas gedung juga keren. Adegan Captain America nahan helikopter apa lagi. Adegan waktu si Cap nahan blasternya Ironman pakai tameng sampai keliatan efek cahaya yang keren banget. Yang paling penting adegan waktu pengrekrutan Spider-man sama Tony Stark itu lucu banget. EMANG BENER KALO SPIDERMAN KALI INI BISA DIBILANG "SEMPURNA".

Gue jadi gak sabar buat nonton Spider-Man :Homecoming yang kabarnya si Ironman juga ikut main disitu. Bayangin aja 2 jenius kocak saling bertemu di salah satu film. Gue jadi gak sabar. Emang motivasi gue nonton Civil War ya karena mau liat Spider-man versi asli Marvel ini.

Pokoknya film ini wajib di tonton buat para penggemar The Avengers. Gue dengan sekejap melupakan pegalnya leher waktu nonton. Dalam hati gue bersumpah buat nggak lagi nonton di seat barisan 2 dari depan. Titik.

Akhirnya rencana nobar sukses dijalankan walaupun banyak halangan. Gue nggak tau gimana nasib geng perempuan yang mau nonton AADC 2. Yang penting Civil War selesai, saatnya menunggu Homecoming.


Selamat Sabtu malam.


Sabtu, 02 April 2016

TEROR

Ternyata nggak cuman Jakarta yang diteror. Gue pun minggu-minggu ini sedang diteror. Parahnya terorisnya adalah orang terdekat gue. Ya, orang ter-de-kat. Ibu. Dia lah biang kewas-wasan gue selama seminggu. Ceritanya dimulai sekitar lima hari yang lalu.

Sore itu, gue yang sedang berada di kamar dikagetkan sama Ibu gue yang tiba-tiba masuk. Dia duduk di sebelah gue yang sedang tiduran. Tiba-tiba satu pertanyaan tidak terduga keluar, loncat dari mulut Ibu gue dan langsung menusuk jantung gue. Rasanya kayak Ibu gue lagi megang senjata jenis AK yang pelurunya tinggal satu dan itu tertmbak tepat menembus jantung gue. Pertanyaannya, "Kak, pacarmu siapa?" That is a simple question, very simple question. Gue gak bilang ini pertanyaan yang mudah. Pertanyaan simple yang membuat gue hampir jantungan dan mati menggelepar. Siapa yang nggak kaget kalo tiba-tiba dikasih pertanyaan begini? Kalo pertanyaannya macam, sebutkan ciri-ciri Coelenterata, gue masih bisa jawab.

Gue diem sejenak, beberapa detik. Sampai akhirnya gue jawab "Nggak punya." Gue jawab jujur. Toh buat apa gue bohong dengan ngomong gue udah punya pacar? Kayaknya Ibu gue belum kehabisan amunisinya, dia reload lagi senjata nya. Bersiap dengan pertanyaan kedua. "Kenapa nggak punya?" Jeduarrrr... pertanyaan kedua ditembakkan, gue kaget lagi. Nggak mau jadi perang berkelanjutan gue milih jalan aman. Gue jawab, "Nggak tau." dan pergi keluar kamar. Malam ini, gue berhasil meloloskan diri.


Paginya, gue sudah siap dengan seragam sekolah dan bersiap berangkat. Langkah gue berhenti saat ada peluru lagi ditembakkan. "Kak! Salam buat pacarmu!" What the hell? Padahal gue udah bilang nggak punya. Kenapa tetep aja ditanya tentang itu. Yah, seperti biasa, gue lari dengan berteriak, "NGGAK PUNYA!" Gue langsung berangkat ke sekolah.

Terus begitu selama lima hari ini. Gue kayak seorang warga sipil yang megang senjata tapi ditembakin pake senapan. Gue cuman bisa lari. Siklusnya dimulai dengan pertanyaan "Kak, pacarmu siapa?" "Nggak punya." "Salam buat pacarmu ya." "Nggak punya!" Begitu terus. Malahan setelah geu bilang "Nggak punya!" Ibu gue menjawab, "Cari dong!"



ARRRGGHH!!!

Emang kenapa sih kalo gue nggak punya pacar? Apa setiap remaja laki-laki normal harus punya pacar? Apa pacar begitu penting buat kehidupan reamja? Apa Ibu gue takut kalo gue jadi gay? Mmmm, mungkin yang terakhir bisa jadi alasan yang pas. Tapi gue nggak bakalan jadi gay!!! Gue normal! Gue juga suka sama perempuan. Tapi gue takut memulai sebuah percakapan dengan perempuan. Gue takut ngobrol sama gadis remaja seumuran. Bahkan lewat chatting

Emang nggak ada alasan yang pasti kenapa gue bsia takut ngobrol sama perempuan. Gue aja bingung. Yah tapi kapan gue pacaran, itu urusan gue sendiri. Itu keputusan gue sendiri. Buat gue, saat ini gue belum butuh pacar. Saat ini gue masih belajar.

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 20 Februari 2016

Hikitori

Akhirnya, gue bisa sedikit bersantai di salah satu wificorner di pojokan kota Semarang. Akhirnya gue bisa ngeblog lagi. Sudah beberapa minggu gue cuman bergaul sama temen-temen sekolah dan buku pelajaran, sudah ada puluhan ide-ide tulisan yang datang menjejali otak gue, menunggu untuk dituangkan ke dalam blog.

Oke, langsung aja.

Di sebuah weekend sore, gue yang sedang sibuk menekan-nekan tombol remote TV, mencari acara yang sedikit bermutu tapi juga menghibur diselamatkan oleh ajakan keluar dari Ibu. Tentu gue dengan senang hati mengiyakan ikut. Sekeluarga kita berangkat menggunakan mobil. Masih belum tahu tujuan sebenarnya, gue udah ber-ekspektasi kalau gue bakal diajak jalan ke Mall, atau paling nggak Supermarket. "Ah, palingan mau belanja.", pikir gue.

Setelah sepuluh menit perjalanan, gue kecewa. Ternyata gue diajak nongkrong di Pantai Marina. Yah, yang menurut gue tempat itu lebih seperti perumahan elit yang deket sama dermaga. Sore itu, "Pantai Marina" terlihat membosankan, yah paling enggak nggak lebih membosankan daripada acara TV sekarang ini. Turun dari mobil, gue langsung mencari tempat duduk. "Pantai" sore itu nggak teralu ramai, cuman ada 2-3 kapal yang menunggu penumpang, beberapa bapak-bapak yang sedang mancing, beberapa anak-anak yang basah karena habis main air di laut, dan pedagang yang lagi nunggu dagangannya laku dibeli orang. Gue duduk dengan wajah datar.

Ayah, Ibu, dan adik gue bergabung, ikut duduk disebelah gue. Tempat duduknya cukup luas. Gue yang lagi kecewa menutup muka dengan smartphone. Main game. Ibu gue yang mau mesen minuman nawarin, "Kak, mau minum apa?" "Ngaak usah." jawab gue masih dengan smartphone menutupi wajah.

Selang sepuluh menit, adik gue minta naik kapal, tentu gue disuruh ikut, tentu gue menolak. Akhirnya adik gue naik bersama ayah. Tinggal gue dan Ibu, tiga menit berlalu gue masih sibuk dengan game yang gue mainkan. Tiba-tiba Ibu gue yang juga seorang perawat rumah sakit bicara, "Kak, kayaknya kamu kena penyakit deh.", gue kaget.

"Penyakit apa?"
"Itu loh, yang dari Jepang, yang dulu rame dibicarain." Ibu gue menjelaskan dengan gaya sok tau, masih belum mengatakan nama penyakitnya.
"Apa ya? Hiki... Hikitori kayaknya"

Gue nahan ketawa!

Gue tau apa yang Ibu gue maksud. Gue tertawa.

"Hikikomori!" jawab gue membenarkan. Dengan setengah berteriak dan menahan tawa.
"Oh iya, Hikikomori!"

Setelah kejadian salah-sebut-nama-penyakit itu, gue jadi senyum-senyum terus. Sampai tiba saatnya pulang. Diperjalanan, gue keinget lagi kejadian salah-sebut-nama-penyakit tadi. Buat yang belum tahu Hikikomori, hikikomori adalah penyakit sosial dimana sang penderita merasa tidak membutuhkan kehidupan sosial. Singkatnya, anti-sosial. Lebih lengkapnya bisa dibaca sendiri di sini: Hikikomori Wiki .

Di perjalanan pulang gue diem seribu bahasa. Mikirin mungkin bener apa yang ibu gue katakan. Mungkin gue udah mulai mendekati hikikomori. Mungkin gue udah mulai anti-sosial. Gue nggak mau cuman hidup di kamar persegi 3x2 meter. Gue masih punya kehidupan lain. Gue masih punya temen-temen. Gue masih normal.

Oke, segini dulu cerita gue kali ini. Semoga kalian suka, semoga kalian nggak jadi hikikomori. Jadi setelah selesai baca postingan gue kali ini, tutup browser kalian, dan temuilah kehidupan sosial kalian.

Selamat Sabtu malam!



Sabtu, 05 Desember 2015

UAS : Ujian Anak Sholeh

Minggu ini gue juluki sebagai week of hell. Kenapa? Karena minggu ini gue disibukkan dengan tugas yang menumpuk dan UAS. Ya, Ujian Akhir Semester. Terus kenapa UAS versi gue artinya Ujian Anak Sholeh?

Jadi, menurut gue UAS sebenernya lebih jadi ujian kejujuran daripada ujian akademik. Yah, kalian tahu sendiri. Sekarang ini masih banyak yang nyontek waktu UAS kan? Nah, ini jadi Ujian tersendiri buat gue.

Banyak banget cara buat nyontek. Kayak buat catetan kecil di kertas sobekan, tanya jawaban ke temen, bawa buku di laci, sampai pura-pura ke kamar mandi. Bahkan ada yang ketahuan tapi nggak kapok nyontek lagi besoknya. Gila nggak? Nggak sih, gue kira di zaman modern gini peluang buat nyontek malah bertambah. Di zaman se-modern ini, cheating is normal.



Kejujuran. Itulah yang bangsa Indonesia saat ini perlukan.Itu yang saat ini pelajar Indonesia butuhkan. Nggak cuma pelajarnya, bahkan juga para pemimpinnya. Hilangkan korupsi, hilangkan budaya nyontek. Kalo temen-temen gue nyontek, siapa yang susah? Pastinya gue sendiri. Kenapa? Coba kalo semua temen-temen gue nyontek, terus nilai mereka bagus, lah gue yang nggak nyontek bisa kalah sama mereka.

Yah, akhirnya semua kembali ke diri kita masing-masing. Mau nyontek, mau enggak, itu terserah masing-masing dari kita. Gue nggak ngelarang temen-temen gue nyontek. Tapi, kalian sendiri yang menuntut, "Kapan Indonesia maju?" "Kapan internet cepet?". 

Lah, kapan Indonesia mau maju kalo genereasi penerusnya udah terbiasa buat kecurangan?


Buat yang masih suka nyontek, Kecurangan itu cuman ngasih kemudahan sementara.


Selamat Sabtu malam!

Minggu, 22 November 2015

Ngomongin Blog (Eps.2)

Akhir-akhir ini, gue sering nggak ngepost di blog. Gue jadi jarang nulis. Oke, sekarang sebenernya gue sering atau jarang?

Yah, sebagai siswa yang baik, mau nggak mau gue harus mengerjakan semua tugas yang diberikan. Ya walaupun kadang ada juga yang udah capek-capek dikerjain malah nggak dikumpulin (kan kampret). Karena tugas yang menumpuk dan gue nggak kuat ngerjain semua sekaligus, makanya gue nyicil satu-satu tugas itu. Nah, karena waktu gue nggak cukup buat ngerjain tugas dan ngeblog, gue mengesampingkan urusan ngeblog. Jadi jarang ngepost, deh.

Nah, jadi... Gue menyempatkan diri buat ngepost minggu ini cuman mau menyampaikan.... Bukan-bukan, gue bukannya berhenti ngeblog. Kayaknya seneng banget ya, kalo gue berhenti ngeblog?

Gue mungkin mau mengganti jadwal update gue yang dulunya seminggu sekali jadi dua minggu sekali. Mungkin kalo kurikulum Indonesia dikembalikan ke KTSP, gue bakal tetep ngeblog seminggu sekali #kode #kode .

Ya, cuman itu yang mau gue omongin kali ini. O iya, buat temen-temen yang udah ngeblog rutin, tetep lanjutin kalo bisa. Jangan kayak gue yaa.

Oke, udah ah. Gue mau ngelanjut tugas lagi. Eh, tapi ini kan malem Minggu.. Jalan-jalan sebentar boleh dong...

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 07 November 2015

Terus Kenapa (?)

Minggu kemarin, gue lupa nulis postingan di blog. Ini karena gue yang sekarang harus mengerjakan banyak tugas untuk nambal nilai gue yang bolong-bolong.

Terus Kenapa?

Oke. Gue sekarang lagi disibukkan dengan aktifitas sekolah yang luar biasa padat. Dari aktifitas akademik sampai ekstrakulikuler. Bahkan hari liburpun masih disibukkan dengan tugas-tugas yang menggunung. Kurikulum di Indonesia memang menyiksa. Balik lagi ke aktifitas, kalian tahu gue ikut ekstra basket.

Terus Kenapa?

Gue laki-laki berkacamata, tentu buat sebagian orang, orang yang berkacamata itu nggak cocok sama aktifitas fisik. Bahkan ada satu temen gue yang tau kalo gue ikut ekstra basket terus ngomong,
"Ikut basket? Lu kan kacamataan!?"

So what man?
Apa yang salah sih, sama laki-laki cupu kacamataan main basket?... Oke, kayaknya itu salah. Terus, apa yang salah sama laki-laki berkacamata main basket? Apa emang udah tertanam di pikiran orang Indonesia kebanyakan kalo orang yang kacamataan nggak boleh aktifitas fisik, orang Chinese itu pelit-pelit, orang batak itu keras, orang gendut nggak bisa lari dan orang yang makan harus duduk? Emm.. yang terakhir bener sih.

Gue suka basket, gue pengin bisa main basket. So... apa yang salah sama orang yang mau belajar? Justru yang salah itu mereka yang udah nyerah dulu sebelum mencoba. Ya gue sih megang prinsip gue sendiri, "selama tidak mengganggu orang lain, lakuin aja apa yang gue suka."

Yah, akhirnya gue tetep ikut ekstra basket, tetep main basket, tetep pake kacamata juga.So... what?

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 17 Oktober 2015

Para Penegak Calon

Pertama-tama, persilahkan gue untuk meminta maaf dulu sama kalian, karena udah dua minggu gue nggak update. Ini karena dua minggu yang lalu dan minggu kemarin gue disibukkan dengan UTS. Ya, nggak kerasa gue udah menjalani SMA selama setengah semester. Cukup cepat. Udah lah, nggak usah lama-lama. Gue akan bercerita pengalaman Penerimaan Penegak Calon kemarin.


Oke, gue saranin kalian duduk manis dan ambil setoples cemilan, because this is a long story.

Waktu itu...


Hari Senin, dari pagi buta gue udah bangun dan siap-siap. Tas yang berisi baju dan perlengkapan yang udah gue siapin malemnya udah gue tata rapi. Nggak lupa seikat kayu bakar yang gue beli dengan selembar uang 5000an tapi beratnya udah 3 kiloan (itu kalo gue nggak salah ngira). Gue udah siap didepan, tinggal nunggu seorang pembalap yang bakal nganter gue ke sekolah. Setelah si pembalap siap, gue dan dia masuk ke mobil, kunci belum benar-benar terputar, gue udah teriak duluan, "Oiya, tongkatnya lupa!". Gue pun turun dari mobil dan ngibrit ngambil tongkat pramuka. Gue emang pelupa, kadang-kadang.

Sampai di sekolah, gue yang optimis akan jadi orang pertama di sekolah harus menunda perasaan itu. Mungkin lain kali, gitu pikir gue. Ternyata di sekolah udah rame banget. Padahal itu jam 6 looh. Anak-anak berjalan cepat dengan membawa bawaanku mereka masing-masing. Ada yang bawa carrier (gila, dia pikir kita mau naik gunung), ada yang sampe bawa 2 tas ransel, bahkan ada yang sampe narik-narik koper walaupun dipunggungnya udah ada ransel besar.

Mendadak pagi itu semua kelas sepuluh kayak mau minggat berjamaah. 

Gue bahkan cuman bawa satu tas ransel yg isinya perlengkapan secukupnya, tongkat pramuka dan seikat kayu bakar 5000an yang beratnya sampe 3 kilo (itu kalo gue nggak salah kira).

Setelah menaruh barang di kelas, gue selaku wapinsa (wakil pemimpin sangga) mengecek kelengkapan barang se sangga. Ada pasak, tikar, palu, alat buat lomba masak, dll. Yak semua lengkap! Kita semua dikumpulkan di lapangane Untuk mengikuti apel pemberangkatan. Yah, setelah apel yang sebenernya nggak penting, kita semua berangkat menuju bumi perkemahaan. Naik apa? Pertanyaan bagus. Kita naik truk polisi, setiap kelas naik satu truk. That's new experience. Naik truk polisi di jalan tol dengan kecepatan penuh sukses buat rambut berdiri dan mulut kering.

Sesampainya di bumi perkemahaan kita langsung diarahkan Untuk membangun tenda. Tenda pinsa gue udah berdiri karena ternyata 2 hari sebelum kami kemah, sudah ada yang kemah duluan. Sangga kami tinggal merapikan tenda, membantu sangga lain yang tendanya belum berdiri, lalu duduk santai di dalam tenda. Gue baru sadar, bumi perkemahan ini sama waktu gue SD dulu. Gue ternyata pernah kemah disini, tepatnya di Bumi Perkemahan Karanggeneng. Jadi semacam deja vu nostalgia gitu (*lah).

Setelah waktu bebas itu, kita dipersilahkan makan siang. Ternyata alat masak yang kita bawa itu cuman buat lomba masak di hari kedua, bukan untuk masak setiap harinya. Kita makan makanan jadi yang dimasak sama warga sekitar, Namanya bu Darsih. Dia yang mikirin menu makan 500 orang tiga kali sehari. Puas mengisi perut kita diberi waktu bebas lagi, setelah itu kita ke lapangan utama untuk melakukan upacara pembukaan. Terik matahari membakar, awan-awan sialan yang nggak tau kemana saat dibutuhkan, gue nggak ngedengerin pidato pembukaan dari kepala sekolah sama sekali. Gue kepanasan.

Setelah upacara, acara selanjutnya adalah sholat. Setelah sholat, acaranya padet banget, sepadet jalanan Jakarta kalo lagi macet. Pinsa-Wapinsa ikut koordinasi, 3 anggota sangga ikut game, 1 ikut apel sore, dan seharusnya 1 lagi buat ngejaga tenda. Tapi sangga gue cuma terdiri dari 6 orang, jadi nggak ada yang ngejaga tenda, untung sangga disebelah gue ada yang ngejagain jadi gue bisa nitip tenda. Gue duduk di kursi aula mendengarkan materi koordinasi dari kakak kelas dengan malas, sedangkan sorak-sorak orang-orang yang ikut game terdengar, kayaknya seru, pikir gue dalam hati.

Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib, kita diberi istirahat buat nunggu makan sholat Isya' sama makan malam. Setelah sholat dan makan, para anggota bebas, sedangkan kami para pemimpin dan wakilnya harus mengikuti materi dan koordinasi buat acara besok. Pinsa ikut materi, wapinsa ikut koordinasi, perfek kombinasi. Sepuluh menit pertama koordinasi berhasil gue lewat dengan biasa-biasa saja, menit berikutnya gue udah mulai ngantuk, nggak sampe tiga menit wapinsa yang lain juga merasakan hal yang sama. Isi koordinasinya nggak terlalu penting, toh sama dengan koordinasi waktu sore tadi. Kita protes minta dipulangkan ke tenda, kita protes minta tidur.

Akhirnya kita dipulangkan ke tenda lebih awal dari jadwal. Gue lihat dari kejauhan tenda gue rame penuh orang. Ternyata temen-temen sekelas, kampret mereka malah pada enak-enakan disini padahal gue mati-matian nahan ngantuk buat ngedengerin koordinasi. Gue usir mereka ke tenda masing-masing, soalnya udah mau jam malam. Gue usir mereka jam 10 an, sedangkan jam malam berlaku mulai jam 10.30. Gue suruh anggota gue masuk tenda, sebelum tidur gue kasih tau mereka apa yang harus mereka lakukan besok. Setelah berdo'a, gue suruh mereka tidur, lebih tepatnya berusaha tidur. Alarm gue set ke jam 12.00, setengah jam sebelum acara pertama kita besok dimulai. Gue berhasil tidur jam 10.45.


***

Alarm gue berbunyi tepat pada waktunya, gue malah udah bangun dua menit sebelum alarm gue bunyi. Langsung gue bangunkan temen-temen dan nyuruh mereka buat ganti baju pramuka lengkap, nggak lupa gue ingetin mereka buat pake kaos dobelan (ini tips yang dikasih tau kakak kelas waktu koordinasi). Jam 12.15 kita semua udah siap dengan seragam lengkap, sisa 15 menit lagi. Gue nyuruh temen-temen untuk jangan keluar dulu, takut dimarahin sama kakak kelas. Terdengar suara langkah kaki kakak kelas yang sedang patroli, tiba-tiba tenda di sebelah tenda gue mengeluarkan bunyi alarm. Huh, amatiran, masa nyetel alarm mepet banget. Sekitar tiga puluh detik bunyi alarm masih nyala, tandanya mereka belum pada bangun. Dari dalem tenda gue dikagetin sama teriakan kakak kelas "DEK, ALARMNYA DIMATIIN!". Gue tau, teriakan itu ditujukan tenda sebelah gue, pada saat itu juga alarm mati. Entah dimatiin atau emang udah selesai alarmnya.

12.30
Tiba-tiba teriakan kakak kelas terdengar, "Dek bangun! Ayo kelapangan utama sekarang!!". Sangga gue yang emang udah siap langsung keluar dari tenda dan pake sepatu, terus ngibrit ke lapangan. Ternyata sangga gue bukan sangga pertama yang sampe ke lapangan, ternyata gue juga salah strategi. Pelan suara pembina pramuka terdengar, walaupun pelan suaranya tetep tegas, berhasil ngebuat muka-muka mengantuk 400an orang terjaga. Nggak ngomong lama, kita langsung diarahkan ke lapangan "tempat suci", yang akan kita pakai buat upacara penerimaan penegak calon. Jalur jalan kita dipisah, antara laki-laki dan perempuan.  Sebelum sampai di lapangan "suci" kita disuruh cuci muka pake air kembang. Makin berasa mistis.

Di lapangan 'suci' ternyata antara laki-laki dan perempuan dikumpulin lagi. Upacara berlangsung, karena ada masalah yang cukup berat, jadi upacara jadi molor lama banget. Akhirnya masalah selesai, dengan hasil 8 orang tidak diterima masuk penegak calon. Kaki gue udah kesakitan disuruh berdiri lama-lama, akhirnya upacara selesai. Kita dipersilahkan duduk ditempat dan dibagi badge Ambalan. Acara puncak Upacara Penerimaan Penegak Calon, kita disuruh menjahit badge itu di lengan baju pramuka sebelah kiri. Ini tadi gunanya pake kaos dobelan, gue bisa leluasa ngelepas baju dan ngejait. Dengan bantuan cahaya bulan dan sebatang lilin, akhirnya jaitan gue selesai, walaupun nggak rapi, gue tetep bangga sama jaitan gue sendiri. uktinya udah dua minggu badge gue yang miring belum gue benerin. #BanggaJaitanSendiri.

Upacara selesai jam 02.45 , Kita kembali ke tenda, gue udah nggak bisa tidur lagi dan memutuskan untuk mandi. Oiya, sorenya gue nggak mandi. Temen-temen juga mau mandi, jadi kita ke kamar mandinya barengan (cuman ke kamar mandinya). Karena kita takut mandi di kamar mandi bawah, kita memutuskan untuk mandi di rumah warga yang memang bayar kalo mau make. Eits, jangan bilang gue penakut, kita emang dilarang make kamar mandi bawah (yang emang satu-satunya kamar mandi cowok) setelah Maghrib sampai setelah Isya' karena emang udah ada pengalaman yang 'dilihatin' sama 'kemasukan'. Tapi, siapa yang mau mandi dengan larangan gitu walaupun udah pagi buta? Di kamar mandi warga tentu kita harus antri, tapi nggak gue sangka, gue yang udah dateng cepet-cepet tetep harus ngantri 4-5 orang. Ya, emang belom jatah gue.

Paginya kita semua dikumpulin di lapangan utama lagi buat senam pagi, terus kita istirahat, terus kita makan lagi di rumah Bu Darsih, Jam 09.00, wapinsa harus ikut materi, 3 orang anggota ikut outbond dan 2 orang anggota ikut lomba masak. Gue setengah ngantuk negedengerin materi, apalagi di aula atas lantainya dingin. Jam 11.00 semua kegiatan selesai, gue dengan setengah lari menuju tenda, gue pengin tidur. Waktu istirahat kali ini emang lumayan lama, kita cuman nunggu sholat Dzuhur dan makan siang. Walaupun tadi gue ngantuk banget nggak tau kenapa waktu di tenda gue nggak bisa tidur malah ngobrol sambil ngemilin jajan. Gue nggak jadi tidur.

Sholat, makan siang, dan gue masih pengin tidur, Tapi nggak bisa lagi karena pinsa gue ngotot mau bersihin tenda. Gue ngalah, bukan, gue kalah. Karena gue cuman wapinsa, gue nggak bisa ngelawan pinsa. Gue nggak jadi tidur (lagi). Jam 15.00 semua dikumpulin lagi di lapangan utama buat memulai hiking. Kali ini gue tinggalin satu anggota buat ngebersihin sama ngejaga tenda. Hiking selesai 17.00, di hiking ini juga jadi perlombaan buat kita semua. Sore itu, gue udah janjian sama temen-temen setenda kalo nggak usah mandi, dan mereka setuju karena emang kamar mandinya penuh banget. Gue usulin kalo gue akan ngebangunin mereka jam 3 buat mandi. Mereka mengangguk.

Setelah sholat maghrib-makan malam-sholat Isya', acara dilanjutkan dengan malam api unggun. Kami dikumpulkan dilapangan api unggun yang udah ditaruhi lampion-lampion cantik dan ada tumpukan kayu bakar ditengahnya. Upacara penyalaan api unggun berjalan lancar dan khidmat. Setelah itu adalah acara pentas kesenian yang diikuti setiap kelas. Pentas ini juga ada juara dan hadiahnya. Menari, nyanyi, modern dance, sampe akustik, hingga acara selesai. Kami beru kembali ke tenda sekitar jam 23.30. Gue berjalan cepat ke tenda, ingin cepat-cepat tidur.


Baru 10 menit kami sampai di tenda, suara peluit panjang dari arah lapangan utama. Delapan kali, artinya itu menyuruh kami untuk berkumpul. Ada apa kah ini?! Tanya gue dalam hati. Dengan kaos, celana training, dan sandal jepit, gue setengah berlari ke arah lapangan. Pinsa dan anggota-anggota gue udah duluan, emang gitu urutannya, pinsa memimpin pertama, anggota ditengah-tengah,dan wapinsa terakhir untuk mengecek anggotanya. Ternyata, ada masalah lagi, setelah 8 orang tidak diterima, kali ini ada yang keluar dari perkemahan tanpa ijin. Mungkin mereka kira, kalo udah diterima bisa bebas seenaknya. Jadi malam itu, sebelum gue tidur, sebelum kita semua tidur, semuanya harus di absen.

Setelah absen, kita semua kembali ke tenda, kali ini benar-benar bersiap tidur. Jam menunjukkan angka 00.00, gue menyuruh semua anggota untuk langsung tidur. Setelah berdo'a, dan menyetel alarm untuk jam 3 nanti kami semua tidur, setidaknya tidur dengan tenang karena malam ini kami bebas dari upacara pagi buta.


***

Tenda gue adalah satu-satunya tenda yang mengeluarkan suara alarm pagi itu. Jam 03.00 tepat, gue buru-buru mematikan alarm dan membangunkan temen-temen untuk mandi. Setelah berusaha membangunkan temen-temen gue berhasil membangunkan satu temen, gue bangunin yang lain. Lima menit kemudian, gue menyerah. Mereka nggak mau bangun, akhirnya gue cuman berdua ke kamar mandi warga. Sampai di kamar mandi, perkiraan gue tepat. Belum ada siapapun yang mandi, gue bisa leluasa mandi lama-lama.

Gue akhirnya kena marah temen-temen se sangga lain karena nggak ngebangunin mereka. Mereka bangun jam setengah lima. Gue nggak salah karena gue udah berusaha negebangunin mereka.

Setelah senam pagi, kita diabsen lagi, dan ada masalah lagi (udah nggak usah gue bahas, kelamaan). Lalu dilanjutkan dengan sarapan, dan bersih-bersih tenda. Tenda udah dibersihkan dan diambrukkan, kita berkumpul di lapangan utama untuk mengikuti upacara penutupan. Padahal baru jam 11, tapi matahari udah sangat nggak bersahabat, gue jadi nggak ngedengerin apa kata pembina upacara. Setelah upacara, dilanjutkan dengan pengumuman juara-juara. Kita se sangga udah pesimis bakalan menang, bahkan pinsanya sendiri bilang, "Kita nggak pernah menang lomba.". Setelah semua lomba udah disebutkan dan kami bukan juaranya, tinggal satu lomba lagi, LOMBA MASAK. Come on, mana mungkin anak laki-laki macam kita juara masak? Pikiran kita se sangga. Tapi saat diumumkan, "Juara 1 Lomba Masak, dimenangkan oleh sangga... Pencoba 2 MIA 1!". Kita semua nggak percaya. ITU KITA! Gue kelepasan teriak keras, sampe diliatin anak-anak lain. Sial.

Yang penting, sian itu, Pencoba 2 MIA 1, Menang. Lomba MASAK.


Akhirnya perkemahan selesai, kita pulang lagi ke sekolahan. Naik truk polisi lagi, rambut gue berdiri lagi, mulut gue kering lagi. Sampai disekolah, gue udah ditunggu. Setelah pamitan, gue pun pulang.

Di rumah, gue langsung mandi, makan, dan tidur.

~Fin~


Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 26 September 2015

Kemah

Hari Senin besok gue akan mengikuti salah satu kegiatan yang memebuat kehidupan SMA gue penuh kenangan. PPC, Penerimaan Penegak Calon, acara tahunan bagi anak-anak kelas 10. Gue bener-bener nggak sabar mengikuti PPC ini. PPC ini berbentuk perkemahan 3 hari 2 malam. Baru liat jadwalnya aja otak gue udah berimajinasi bagaimana keseruan kegiatannya nanti. Jadwalnya padat benget!

Nggak berbeda dengan jadwalnya, barang bawaannya juga ikut padat. Gue diharuskan membawa barang-barang yang nggak tau cukup dimasukkan ke satu tas atau nggak, belum lagi bawaan per sangga, Gue juga nggak tau seberapa berat bawaan gue nanti. Otak gue udah gue larang berimajinasi. 

Tempat perkemahan tahun ini di Karanggeneng, Gunung Pati. Gue juga belum tau pasti gimana tempatnya. Yah, bagi gue yang terpenting adalah kamar mandinya, karena kalau kamar mandinya kotor, bisa dipastikan selama 3 hari itu gue ogah-ogaham mandi. Oke, gue nggak akan ngebayangin hal itu dulu.

Salah satu hal yang membuat perkemahan menyenangkan adalah tidur di tenda. Udah lama juga gue nggak tidur di tenda, kurang lebih sudah 3 tahun. Tiga tahun yang lalu, kira-kira waktu gue duduk di kelas 6 SD. Sekolah gue mengadakan perkemahan 3 hari 2 malam juga. Gue masih inget, walaupun udah lupa nama tempatnya. Gue saat itu jadi ketua regu, dan mempin anggota gue mengikuti perkemahan. Oke, malam ini gue nggak akan flashback. Gue capek mengingat.

OH IYA!!!!!

GUE BELUM DAPET KAYU BAKAR!!


Yaudah ya, gue mau cari kayu bakar dulu buat barang-barang kemah besok. Pokoknya bakalan gue ceritain apa yang gue alami disana.  

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 19 September 2015

Sunday Trip!

Minggu lalu, gue dan teman-teman memutuskan untuk melakukan Sunday Trip (asek, bahasa gue :)...). Kita udah penat dengan aktifitas seminggu yang super padat dan melelahkan. Teman-teman gue lelah karena belajar dan mengeluh, gue lelah karena belajar dan mendengar keluhan-keluhan mereka. Oke, perlu kalian tahu, gue nge-trip nggak bareng teman kelas maupun teman sekolah. Gue jalan bareng teman-teman gue waktu SD.

Mungkin dari kalian ada yang nanya, (mungkin sih...) "Kenapa masih bisa akrab sama temen-temen SD sih? Gimana caranya?" Atau semacam itulah. Jangankan kalian, gue bahkan nggak tau jawabannya. Mungkin karena selama 6 tahun di SD gue orangnya baik banget, atau mungkin karena gue enak diajak jalan-jalan. Entahlah, hanya teman-teman SD gue yang tahu.

Ya, oke, kita lanjut aja ke cerita.

Berawal dari Minggu pagi, sangat pagi malah. Gue yang emang udah merencanakan trip ini segera bersiap. Cuci muka, sikat gigi, dan nggak perlu mandi. Perjalanan gue dimulai degan menjemput salah satu teman di rumahnya. Dia adalah Jamal. Jamal sudah beberapa kali gue ceritakan di blog ini. Jadi nggak perlu di jelaskan lagi. Setelah itu, gue dan Jamal, berangkat menjemput Dias. Temen SD kita juga. Setelah pengecekan barang selesai, kita pun siap berangkat!

Tujuan kita adalah Air Terjun Gonoharjo. Air terjun yang terletak di Desa Gonoharjo, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Gue, Jamal dan Dias berangkat dari jam 6, mengendarai 2 sepeda motor. Perjalanan ke air terjun awalnya lancar, sampai kita bertemu sebuah penunjuk jalan yang menyesatkan. Penunjuk jalannya sih bener, tapi jalan yang ditunjuk berakhir pada jalan alternatif. Sampailah kita menghabiskan waktu lebih lama di jalan. Jalanan terjal, jalanan curam penuh batu dan lubang membuat motor yang kami naiki terhambat. Prinsip yang gue pegang saat itu adalah, jalan pelan-pelan asalkan selamat. Jujur aja, itu kali pertama gue naik motor di jalan alternatif. Gue taku... bukan, bukan takut. Gue ngeri.

Tapi jalan alternatif ini juga memiliki kelebihan sendiri, yaitu pemandangannya yang bisa gue pastiin nggak bakalan ada di jalan utama.


Pemandangan di sekitar perjalanan.

Yap, setelah gue melewati jalanan yang sangat menyita waktu, dan menguras tenaga, akhirnya kita sampai. Kita sampai sekitar jam 8. Setelah memarkirkan motor, kita bergegas membeli tiket, masih sepi, parkiran hanya terisi 10-15 motor. Harga tiketnya  cuman 8000, cukup murah untuk wisata air terjun dan pemandian air panas. Perjalanan gue ternyata belum berakhir, gue harus menempuh jalanan setapak menurun yang gue kira-kira kurang lebih 500 meter. Kalo gue sih...

Setelah menempuh jalanan setapak menurun yang lumayan bikin keringetan tapi kebayar sama keindahan view disekelilingnya, gue sampai di barisan warung-warung. "Gue kesini nggak cari warung! gue cari air terjun!" pikir gue dalam hati. Setelah melewati barisan warung-warung, ternyata gue nggak langsung dipertemukan dengan air terjun. Gue dipertemukan dulu sama kolam pemandian air panas dulu (nggak gue foto). Ternyata perjalanan ke air terjun masih menempuh jalanan setepak lagi.. Jauh di depan...

Ya, gue masih sanggup. MASIH.

Perjalanan menuju air terjun dimulai. Gue berjalan dengan semangat. Di tengah-tengah, jalan dipotong oleh sungai yang kalo diperkotaan bisa jadi tempat wisata yang tiket masuknya 20.000. Jernih banget.
Gue menyegarkan diri disitu, airnya sejuk.

Jamal melepas penat.

Setelah puas main disungai. Kita ,melanjutkan perjalanan, naik-turun jalan setapak, penuh batu-batu tajam. Gue saranin kalian kalo kesini pakailah sepatu. Jalan setapak ini kalau gue kira-kira kurang lebih 800 meter, kalau gue sih...

Dan akhirnya, setelah sejam lebih berjalan karena sering istirahat, kita akhirnya sampai. Di Air Terju Gonoharjo!


Air tejun ini tingginya kurang lebih 25 meter (kata mas-mas yang gue tanya sih). Sampai disini kecapean, dan keringet gue terbayar lunas! Air terjun yang keren ini sukses buat gue terpesona. Sayang, di sepanjang jalan masih banyak sampah-sampah bekas turis nggak berperasaan. Coba gue bawa kantong plastik, pasti gue pungutin deh.

Kita pun nggak cuman ngeliatin air terjun aja. Kita mencoba main air disini. Diawali dengan Jamal dan Dias yang langsung nyebur setelah melepas sepatunya. Dan gue masih dipinggiran karena harus mengambil gambar mereka (alesan). Oke, jujur, gue takut.

Dias.

Jamal
Dan akhirnya tiba saatnya gue ikutan nyemplung. Masa gue kesini nggak nyemplung, kan nggak afdol. Gue langsung lompat ke air dan... TERNYATA AIRNYA DINGIN BANGET!!! Ini adalah air terdingin yang gue buat mandi. Gue nggak kuat lama-lama, dinginnya air ditambah angin dari air terjunnya ngebuat badan jadi menggigil hebat. Gue kalah dimenit ketiga.

FREEZING..

Setelah puas bermain air, gue kembali turun. Melewati jalan yang sama, bedanya gue kali ini turunnya nggak pakai sepatu. Dan gue menyesal. Setelah sampai di kolam air panas kita kembali menceburkan diri di kolam air hangat. Berendam di sana berlama-lama. Feel like yaccuzi...

Setelah puas berendam, dan bilas, kita pulang. Kali ini lewat jalan utama tentunya, karena kita kapok lewat jalan alternatif. Hilang sudah kepenasaran gue  tentang air terjun ini...

Di rumah, gue berpikir, rencana Sunday Trip bareng temen-temen harus gue susun kembali, di tempat tujuan yang berbeda tentunya...


Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 12 September 2015

Duka dan Gembira

Hari itu sahabat terdekat gue udah nggak bisa bersama gue lagi. Namanya Pec. Dia udah pergi ninggalin gue. Padahal baru 5 tahun gue bersama dia. Walaupun gue tau 5 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi tetep aja kayaknya baru kemarin gue ketemu dia. Sebenernya gue juga nggak tau alasan dia pergi secepat ini. Tau-tau dia udah nggak berdaya lagi. Kondisinya parah, salah satu tangannya putus.

Pagi itu gue bangun seperti biasa, makan seperti biasa, dan nonton kartun pagi seperti biasa. Itu semua gue lakukan bersama dia. Tapi gak tau kenapa, sekitar pukul 10.30 waktu gue lagi iseng manasin mesin kamera, tiba-tiba salah satu tangannya putus. Gue panik, dan segera minta bantuan. Tapi percuma, dia udah gak tertolong.

"Kenapa secepat ini? Kenapa harus hari ini?! Padahal besok ujian! Gue kan nggak bisa hidup tanpa Pec!"

Selamat Tinggal Pec.

si Pec.
Ya, Pec adalah sebuah kacamata. Eits, jangan salah! Walaupun dia kacamata, tetep aja dia sahabat gue yang paling setia. Waktu gue seneng dia ada, waktu gue nangis kejer juga dia masih nempel di kepala gue. Banyak kenangan yang tercipta antara gue dan Pec selama 5 tahun ini. Dia rela gue pake waktu tidur (sebenernya ketiduran), dia nggak protes waktu air mata gue netes ke lensanya, dia juga nggak marah waktu kena bola basket. Pokoknya gue sayang sama Pec.

Karena gue nggak bisa hidup tanpa Pec (baca : kacamata). Akhirnya gue ke optik langganan untuk beli kacamata baru. Begitu sampai di depan optk, aura ratusan kacamata berbagai model langsung terasa. Baru melewati pintu masuk, ratusan kacamata berbagai model itu teriak,

"Beli aku!"
"Pilih aku!"
"Jangan, pilih aku aja!"
"Hargaku lebih murah, beli aku aja!"
"Aku lebih keren, beli aku aja!"

Gue bingung.

Gue butuh waktu setengah jam lebih untuk memutuskan kamata mana yang gue beli. Si Pemilik Optik (yang juga udah kenal gue) sampai mengeluarkan puluhan model kacamata yang selalu gue tolak, "Ah, gak cocok pak." Sampai pada satu kacamata yang ngebuat gue mikir, "Keren juga." Tanpa pikir panjang--karena si Pemilik Optik juga udah keliatan jengkel-- gue langsung bilang, "Yang ini keren juga pak, ambil yang ini deh." Si Pemilik Optik pun tersenyum lega bahagia.

Kacamata ini sebenernya sama kayak kacamata-kacamata lainnya. Yang bikin gue tertarik adalah warnanya. Dengan warna dasar hitam terus ditumpuk sama plastik warna putih ngebuat jadi berkesan keren. Gue sebagai penggemar fanatik warna hitam-putih nggak mau kehilangan kesempatan ini. Gue kasih nama kacamata itu Si Bianco (bahasa Italia dari "putih'". Berasa keren gitu pake bahasa Itali)

Gue salah BESAR!

Gue kira si Bianco langsung gue pake dan dibawa pulang. Tapi ternyata gue harus nunggu proses pembuatan lensanya. "Paling cepet seminggu." Kata si Pemilik Optik tadi. Karena hari Seninnya gue Ujian, gue dengan sangat sangat sangat terpaksa akhirnya memakai kacamata cadangan. Si Pec Mk.II

Pec Mk.II

DAAAAAAN... Akhirnya setelah menunggu seminggu, Bianco ahirnya bisa bersanding di kepala gue,Gara-gara gue make Bianco, tingkat kecupuan gue berkurang 1%. Yah, lumayan untuk orang yang cupunya 90%. Oiya kalian dapet salam dari Bianco, dia sekarang lagi nemenin gue nulis paragraf terkahir ini. Untuk Pec, selamat tinggal, hati-hati disana, terimakasih sudah menemani  gue selama 5 tahun ini. Pec, terimakasih.

Selamat Sabtu malam!

Tulisan ini didedikasikan untuk
Spectacle, si Kacamata
2010-2015

Sabtu, 05 September 2015

Surat Untuk Pak Menteri

Dear Menteri Pendidikan, Bapak Anies Baswedan. Saya perwakilan dari siswa-siswi SMA di Semarang dan daerah Jawa Tengah lainnya yang belum terbiasa dengan program "5 Hari Sekolah" memutuskan untuk menulis surat ini. Karena jadwal saya terlalu padat dan harus mengerjakan PR-PR yang menumpuk setinggi gunung. Bisa dilihat di postingan saya sebelumnya di SINI (klik tulisan SINI). 

Eh... didalam surat nggak bisa nulis link kan ya...


Oke, saya lanjutkan saja surat ini. Pak, saya baru saja masuk SMA dan merasakan program "5 Hari Sekolah". Saya rasa, program ini sangat, sangat, sangat, sangat tidak efektif. Kenapa? Karena saya banyak menerima curhatan-curhatan lebay dari teman-teman saya. Seperti :

"Aduuuh, kapan pulang nih?! Setengah hidup kita dihabiskan di sekolah!"
"Lima hari sekolah tapi pulangnya sore-sore. SAMA AJA!"
"Bisa mati kering disekolah kalo gini terus caranya!"
"Uang jajan udah habis, tapi belum pulang-pulang. AAAARGH!!!"

Dan lain sebagainya...

Kasihan mereka Pak, kasihan saya juga Pak. Oke Pak, sekarang kita coba kita bandingkan antara anak sekolah dan pekerja kantoran.

Anak sekolah masuk jam 07.00 dan pulang jam 15.15, dengan 2 kali istirahat yang kalau ditotal hanya 45 menit. Jadi kalau dihitung-hitung, anak sekolahan belajar disekolah selama kurang lebih 7 jam 30 menit.

Pekerja kantoran masuk jam 08.00 dan pulang jam 16.00 dengan sekali istirahat makan siang total 1 jam. Jadi, dia bekerja di kamtor selama kurang lebih 7 jam. Tiga puluh menit lebih cepat dibanding anak sekolahan.

Dan perlu diingat, pekerja kantoran pasti digaji setiap bulannya, dan anak sekolahan malah mengeluarkan uang setiap harinya untuk keperluan tugas, jajan, dan lain-lain.


Oke, kita lanjut saja pak. Ada yang mengatakan kalau program "5 Hari Sekolah" memungkinkan siswa beristirahat di hari Sabtu dan Minggu. Tapi Kenyataannya... Hari Sabtu dan Minggu malah digunakan untuk mengerjakan tugas. Mananya yang beristirahat? Apanya yang bersama keluarga? Hari Sabtu dan Minggu kita nggak bisa beristirahat, nggak bisa bercengkrama dengan keluarga karena tugas kelompok diluar rumah. Apalagi ditambah dengan Kurikulum 2013.

Ada yang bilang juga kalau program "5 Hari Sekolah" mengurangi kenakalan remaja, vandalisme, dan kegiatan-kegiatan merugikan lainnya. Tapi nyatanya vandalisme masih banyak, anak-anak nakal disekolah saya juga banyak. Pada kenyataanya program "5 Hari Sekolah" tidak banyak mengubah remaja-remaja yang memang sudah nakal. Kan kasihan remaja-remaja yang nggak nakal seperti saya.

Tapi itu semua mungkin cuman curhatan temen-temen saya aja yang lebay Pak. Mereka, kita hanya belum terbiasa dengan program dan kurikulum ini. Yah, pada akhirnya semua akan terbiasa dan tidak ada yang protes lagi. Mudah-mudahan sih...



Tapi pak...


Saran saya nih ya, untuk meredakan protesan-protesan dari siswa-siswa yang lebay, lebih baik kurikulumnya diganti lagi dengan KTSP. Atau kurikulumnya tetap tapi program "5 Hari Sekolah" dihilangkan. Atau mungkin kurikulum dan program hari sekolahnya bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Kalau bisa sih...

Nah, kalau salah satu dari kemungkinan di atas dipenuhi atau bahkan ketiganya, saya yakin siswa-siswa yang protes terlalu lebay akan kembali tenang dan damai. Terus terang saja pak, saya tidak tahan didekat orang yang protes suka lebay.

Oke, sekian dulu surat dari saya kali ini. Mungkin kalo nggak ada kerjaan atau protes lagi dari teman-teman saya akan menulis surat ke Bapak lagi. Maaf kalo terlalu panjang. Maaf kalo bahasa yang saya gunakan tidak baku karena saya tidak terlalu hafal kata-kata baku. Maaf kalo ada ketikan saya yang typo, maklum, anak muda zaman sekarang.

Akhir kata,

Selamat Sabtu malam Pak~







Sabtu, 22 Agustus 2015

Gue Punya!

Sudah beberapa minggu ini gue punya mainan baru. Instagram. YAP! Sekarang gue udah punya Instagram. Sosiam media yang sekarang ini lagi ramai dipermainkan. Hampir sebagian besar temen gue sudah punya Instagram. Seperti pengalaman gue di postingan gue yang udah lalu-lalu...

Flashback...

A long time ago


Pertama kali punya Instagram, gue agak bingung gimana cara mainnya. Beda kayak waktu perpindahan gue dari Facebook ke Twitter, karena konspenya sama. Gue bingung gimana caranya liat foto profil temen, dan akhirnya gue tau kalo di Instagram nggak bisa liat foto profil orang. Oke. 



Di Instagram ternyata banyak juga fenomena-fenomena yang menurut gue absurd. Fenomena komentar jualan. Gue pernah nemu ada satu foto sunset di pantai dan gue cek komentar-komentarnya, tiba-tiba gue brehenti di salah satu komen yang bacanya, "JUAL PENINGGI BADAN MURAH..." Ini apa coba? Bayangin, apa hubungannya sunset sama peninggi badan? Atau si Komentator tau kalo yang punya foto pingin tinggi? Atau peninggi badan punya pengaruh besar dalam menciptakan foto sunset yang bagus? Nggak ada yang tau.

Lagian kalo ada yang komentar jualan di foto gue, gue bakalan langsung 'delete', enak aja jualan di Instagram gue. Iya kalo gue dapet keuntungan, boleh kalo sebelum komen dia ngirimin gue pulsa dulu. Kalo gitu gue ijinin deh.

Terus ada juga fenomena komentar singkat yang gue nggak tau apa maksudnya. Ada yang nulis disebuah foto temen gue bacanya, "lfl? fff? U first.". Ya, awalnya gue bingung apa maksud lfl dan fff itu. Belakangan gue tau kalo "lfl" itu "like for like" dan "fff" itu "follow for follow". Aneh aja, nge-like kok perhitungan, pengin difollow kok nggak niat pakai singkat-singkat. Mungkin, ini ciri khas Instagram jaman sekarang. Mungkin.

Dan, sekarang gue udah punya Istagram!! Mau apa kalian orang yang suka pamer sosmed? Kalian udah nggak bisa ketawa lagi kalo gue bilang belum punya Instagram. Sekarang gue udah nggak minder lagi karean nggak punya Instagram. Jika kalian masih berani tanya "Punya Instagram nggak?", gue akan jawab dengan lantang, "GUE PUNYA!"

Selamat Sabtu ma....!

Eh iya, kalau kalian mau kepo, follow, love, comment di Instagaram gue, kalian bisa visit di :

@fi_kuun

Kalau mau...


Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 08 Agustus 2015

Sibuk


Akhir-akhir ini gue sudah bener-bener sibuk. Kehidupan SMA gue sudah benar-benar dimulai. Gue udah mulai pakai seragam putih abu-abu, udah masuk kelas sesuai penjurusan, dan udah belajar sesuai jadwal yang terrtulis. Oiya ngomong-ngomong, gue masuk IPA. Atau yang sekara disebut MIA. Yah, ini sesuai dengan apa yang gue tulis di lembar peminatan yang dibagi beberapa minggu yang lalu. Lembaran yang gue isi dengan sedikit asal-asalan.

"
Peminatan : IPA
Alasan : Karena saya ingin masuk IPA
"

Serius! Gue bener-bener nulis gitu di lembar peminatan. Entah kepala si Guru terbentur apa sampai bener-bener masukin gue ke kelas IPA.

Yah, tapi gue tetap bersyukur.


Balik lagi ke topik awal. Ya, gue memang bener-bener sibuk. Sejak ada program "5 Hari Sekolah" gue jadi bangun pagi, pulang sore. Yang gue rasa sangat nggak efektif. Gue yakin, sebagian dari dari kalian setuju sama pendapat gue. Biar kalian tau kegiatan gue dari pagi sampai hampir pagi lagi, gue udah buatin jadwalnya nih. 



03.45 WIB : Kebangun gara-gara alarm, setting alarm lagi jam 04.05, kembali tidur

04.05 WIB : Bangun lagi gara-gara alarm yang gue setting sebelumnya, ngeliat jam yang ternyata masih terlalu pagi, kembali tidur (lagi).

04.30 WIB : Bangun lagi (kali ini nggak pakai alarm), sholat Subuh, mandi, siap-siap dan melakukan hal-hal nggak penting lainnya.

05.15 WIB : Ngebantu ibu siapin bekal dan sarapan yang lebih tepat disebut mengganggu daripada membantu

05.30 WIB : Bosen bantu-bantu yang lebih tepat disebut mengganggu, jadi kembali melakukan hal-hal nggak penting.

06.15 WIB : Sarapan, dan siap-siap buat berangkat sekolah.

06.30 WIB : Berangkat ke sekolah, naik angkutan umum.

06.45 WIB : Sampai di sekolah, langsung ke kelas, duduk menunggu bel masuk, ngobrol sok kenal sama temen baru (kalo hari senin biasanya upacara).

07.00 WIB : Bel masuk bunyi, siap-siap pelajaran.

07.00 - 15.45 WIB : Kegiatan belajar membosankan yang ngehabisin banyak waktu kalo dirunut perjam.

15.45 WIB : Pulang, menunggu angkot yang biasanya udah mulai jarang jam segini. (setiap hari Senin dan Rabu gue ada latihan basket jadi nggak pulang, biasanya latihan selesai jam 18.00 WIB)

16.00 WIB : Sampai rumah, bongkar tas, melakukan hal-hal nggak penting, istirahat yang nggak bisa dibuat tidur.

17.45 WIB : Sholat Maghrib. makan malam.

18.15 WIB : Baca-baca tadi siang, mengerjakan PR (jika ada dan ingat).

18.40 WIB : Mata udah mulai berat, belajar jadi nggak konsen, akhirnya memutuskan istirahat 15 menit.

18.55 WIB : Niatnya mau ngelanjutin belajar tapi asik sendiri sama gadget jadi lupa kalo lagi istirahat.

22.00 WIB : Keterusan main sampai malem, mau ngelanjutin belajar tapi sudah ngantuk, set alarm jam 03.45, dan tidur.




Nah, jadi gitu jadwal keseharian gue. Terus berulang dan rata-rata sama, sampai gue sendiri bosen sama rutinitas ini. Yah, intinya program "5 Hari Sekolah" ini sangat menyiksa siswa, mungkin karena belum terbiasa. Mungkin kalo gue udah terbiasa, semuanya jadi bisa. Mungkin.

Di paragraf terakhir ini gue jadi kepikiran sesuatu, gue bakalan buat surat untuk pak menteri dan gue publish di blog ini. Yah, mungkin bakalan lama jadinya karena gue harus pakai bahasa yang baik dan benar. Tunggu aja ya, semoga aja cepet. Semoga.

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 25 Juli 2015

Jika Kalian Rindu (Behind The Scenes)

Yap, gue baru-baru ini upload satu video di YouTube. Judulnya, "Jika Kalian Rindu".

Cerita dimulai gara-gara gue dikasih tau satu film lawas yang katanya bagus sama mahluk ajaib yang pernah gue ceritain sebelumnya, Luqman. Itu looh, yang jago main gitar sama bass. Catatan Akhir Sekolah, film tahun 2005 yang berarti waktu film itu muncul gue masih TK (dan itu nggak penting). Setelah nonton filmnya, gue ngomong ke Luqman, "Gimana kalo kita juga buat film kayak gitu?" Dan akhirnya, dimulailah proyek pembuatan film.

Dengan berbekal kamera digital kecil dan dua lembar script yang lebih tepat disebut coret-coretan. Gue dan Luqman memulai proses syuting. Sebenernya ini bukan pertama kalinya gue syuting, karena gue udah pernah syuting buat tugas pelajaran Bahasa Indonesia dulu, bareng geng "5Kacamata". Waktu itu peralatannya lebih baik dengan script (yang benar-benar script) dan kamera DSLR. Eh, kenapa gue malah cerita yang lain... Lanjut!

Syuting film ini nggak semua berjalan lancar. Gue salah mulai, gue mulai sehari sebelum tryout. Ya, jadi waktu itu gue lagi sibuk persiapan buat UN SMP. Gue tetep bela-belain bawa kamera dan shoot setelah pulang sekolah. Ada juga kendala waktu scene gue ngomong dan wawancara, tenyata kualitas rekaman audio kamera digital gue jelek. Karena kita (gue dan Luqman) sibuk untuk TO, kita nggak terlalu memperdulikan kualitas audio. Yang penting jadi, begitu pikir kita waktu itu.

Kendala juga datang waktu kita udah nggak punya waktu lagi buat shoot. Kita udah mulai disibukkan dengan pelajaran tambahan, dan pendampingan yang membuat kita pulang sore dan malas untuk syuting. Yah, waktu itu gue tetep bawa kamera kalo ada adegan dadakan buat scene "Kisah Cinta". FYI, scene "Kisah Cinta" ini nggak ada script sama sekali, nggak ada settingan sama sekali. Jadi gue cuma nunggu (atau lebih tepatnya mencari) adegan-adegan temen-temen pacaran. Yah, pikiran gue memang nakal. Tentu ada yang sadar kamera dan mengira gue akan melaporkannya ke guru. Waktu itu gue cuman senyum dan bilang, "Nggak kok".

Setelah beberapa minggu nggak syuting dan masih banyak scene-scene yang kurang. Waktu semakin sempit, TO-tambahan-TO-tambahan terus berulang. Kita nggak ada waktu luang lagi dan memutuskan break. Tanpa terasa waktu lewat begitu saja, tiba-tiba UN sudah didepan mata. Setelah UN, liburan dan kita nggak bisa ketemu lagi. Padahal masih banyak rencana scene-scene yang belum keambil.

Perpisahan. Waktu yang seharusnya jadi 'deadline' kita, acara penayangan film ini dibatalkan karena belum jadi. Karena waktu perpisahan pemutaran film gagal, kita beralih ke rencana B, "Upload ke YouTube". Yah, rencana ini juga nggak berjalan mulus. Kita nggak lanjut syuting karena memang udah nggak bisa ketemu lagi dan terhalang Cameraman Blocks, versi video dari Writers Blocks. Sampai waktu lebaran kemarin, ibu gue mengingatkan gue tentang film ini. Dia reuni SMP, dan gue teringat film ini. File film inipun gue buka lagi, dan gue edit lagi dengan konsep seadanya. Scene terakhir yang gue shoot yaitu scene judul yang gue nebelin tulisan "Jika Kalian Rindu", semalam sebelum proses upload. Akhirnya film yang berdurasi 9 menit 45 detik ini berhasil gue selesaikan dan upload.

Yang mau nonton nih,

Yang masih bingung sama jalan ceritanya bisa klik di SINI (klik kata "SINI")


Akhirnya, beban gue udah hilang. Janji bakalan upload YouTube udah gue selesaikan. Yah walaupun kualitas gambar dan suara masih sangat minim. Gue keinget lagi salah satu kultwit gue soal ini.


Atau mungkin kata terakhir gue ganti, "videonya."


Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 18 Juli 2015

Marhaban Ya Lebaran

Diawal bulan Ramadan gue udah nulis satu postingan berjudul "Berkah Awal". Yah, semua orang juga tau kalau bulan Ramadan itu bulan yang banyak berkah. Gue juga setuju karena memang gue dapet sendiri keberkahan itu. Terus, apakah diakhir bulan Ramadan ini gue juga dapet berkah?

Tentu!


Lebaran berhubungan erat dengan mudik. Saat lebaran, hampir semua kalangan masyarakat ikut mudik. Begitu juga dengan gue, tahun ini gue ikut mudik. Sebenernya bagi remaja sepantaran gue atau yang lebih muda dari gue itu nggak akan bisa mudik. Kenapa? Kerana pengertian mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Sedangkan gue, kerja aja belum apalagi merantau?

Saat mudik, salah satu hal yang pasti adalah munculnya acara pantauan arus di televisi. Mudik kayak jadi event tersendiri buat stasiun-stasiun TV untuk menarik penonton. Setiap jam, menit, detik, desidetik, milidetik, sampai nanodetik (nah, gue mulai lebay) pasti ada acara pantauan arus itu. Mungkin nanti kalo udah sakin ekstrimnya, waktu gue lagi seru-serunya nonton pertarungan BimaX lawan Evil Torga, tiba-tiba reporternya nyela, "Maaf mas BimaX, gentian dulu sama acara pantauan arus, lagi penting!". Terus si reporter nyapa penonton, "Yak, pemirsa disini saya melaporkan dari..." Wat de..

Sholat Ied adalah ritual wajib saat Lebaran. Semua orang berbondong-bondong bangun pagi, siap-siap, terus berangkat ke masjid. Pagi itu, semua masjid penuh dengan orang-orang. Anehnya, tanpa direncanakan sebelumnya, kebanyakan orang pada pakai baju warna putih. Gue juga bingung, apa mereka janjian? Atau memang kebetulan?

Lebaran juga identik dengan ketupatnya. Dulu, waktu masih kecil, gue pernah minta diajarin cara bikin ketupat. Setelah beberapa menit mencoba, gue akhirnya menyerah. Ternyata bikin ketupat itu susah. Nah, temen akrab si ketupat siapa lagi kalo bukan opor ayam. Tanpa opor, ketupat nggak enak, seret. Ketupar dan opor ayam nggak bisa dipisahin, mereka salaing melengkapi, dan salaing mencintai (oke, gue mulai gila.).Eh, puasa gue batal nggak ya ngomongin opor sama ketupat? Jujur aja ini ditulis di hari ke-28.

Nah, sekarang saatnya berkah yang semua orang tunggu-tunggu. Te Ha eeeeeeRRRR!! Siapa sih yang nggak nungguin THR? Ya, ini adalah salah satu alasan wajib orang-orang nungguin lebaran. Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah dengan alasan silaturahmi. Tapi akhirnya salam tempel lah yang ditunggu. Yah, kenangan masa lalu, coba aja kalo gue yang sekarang ngelakuin kayak gitu, bisa malu atau bahkan malu-maluin. Bayangin aja anak 15 tahun kelas sepuluh SMA, tiba-tiba dateng ke rumah tetangga atau saudara hanya untuk makan beberapa kue dan bilang, "Om, THRnya mana?"



Dengan berakhirnya lebaran, berarti berakhir juga Ramadan. Nggak ada lagi acara buka berasama, sahur on the road, atau tarawih. Nggak ada lagi jerit-jerit ketakutan dari gue yang kaget karena suara pertasan. Ramadan, terimakasih sudah ngumpulin keluarga yang biasanya nggak bisa ngumpul, terimakasih sudah membuat orang yang bermusuhan saling memaafkan, terimakasih sudah membuat orang yang biasanya pelit bisa memberikan THR.


Ramadan...

Terimakasih.

Gue dan segenap tulisan-tulisan gue mengucapkan, Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin!
Oh, iya si Io juga pingin ngucapin nih...

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin yaa!

Salam, Io si jam tangan.

Dan Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 11 Juli 2015

MOS

Sudah sewajarnya bagi gue, anak baru di sekolah baru untuk mengikuti MOS. Itulah yang gue alami selama beberapa hari kemarin, mengikuti MOS di salah satu SMA Negeri di Semarang. Ya, sekarang gue udah masuk SMA, kelas sepuluh. Sekolah yang (belum) bisa gue banggakan. Gue masuk ke sekolah yang berbeda dari ekpektasi gue. Yah, kalo udah begini salah siapa?

Salah pemerintah? Bukan.
Salah guru? Tentu saja bukan.
Salah orangtua?Ya bukanlah!

Akhirnya  gue sadar, ini salah gue sendiri suka nyalah-nyalahin orang.



***


Hari pertama, gue bersiap dengan santai, si Io menunjukkan angka 6.15. Tertulis di undangan, kalo gue harus sampai sebelum jam 7. Tapi. Come on, siapa sih yang mau ngehukum anak baru? pikir gue.

Gue sampai di sekolah tepat lima menit sebelum jam 7. Baru memasuki gerbang, gue langsung diteriaki, "DEK JAKETNYA DILEPAS!". Jaket memang udah jadi bagian dari seragam wajib gue. Gue melepas jaket sambil tersenyum, senyum adalah strategi perlawanan gue nomor satu.

Memasuki lorong, ada lagi senior yang teriak, "CEPET DEK! LARI!!". Gue tetap berjalan santai (masih sambil tersenyum). Tanpa diduga seorang senior laki-laki meneriaki gue lebih keras, "LARI DEK!! KAMU LAKI-LAKI APA BUKAN?!!!". Gue sempet kaget, tapi cepat mengendalikan diri, gue sedikit mempercepat langkah gue, belum sampai lari dan masih tersenyum. Heh, kalian pikir gue bakalan takut sama teriakan kalian? Gue udah biasa digituin di kelas 7 dulu.



Gue (kami) diarahkan untuk mencari kelompok sendiri-sendiri. Gue perhatikan nama kelompok yang tertempel di pintu-pintu kelas : Uzumaki 1, Senju 2, sampai Uchiha 3. Panitia pasti fans fanatik Naruto nih, gue aja nggak sampai begini. Pikir gue. Gue kebagian kelompok di Hyuga 6, dengan agak kecewa gue masuk ke kelas dan menaruh tas. Sebenernya gue juga sedikit protes dalam hati, Hyuga seharusnya ditulis "Hyuuga", pakai dobel u!

Setelah menaruh tas, gue (kami) diarahkan ke lapangan, masih disertai suara teriakan senior. Masih dengan berjalan dan tersenyum gue ke lapangan, sudah terlihat barisan teman-teman yang nantinya akan jadi teman seangkatan dan seorang guru (mungkin) yang berteriak-teriak di depan mereka. Apa lagi kali ini?


Foto dapet download.

Singkat cerita, setelah puas latihan upacara dan diteriaki. Gue (kami) disuruh masuk ke kelas yang sudah dibagi tadi, gue Hyuga 6, kurang u satu. Di kelas, dengan 2 kakak-kakak senior, gue berusaha mengakrabkan diri dengan teman-teman baru. Gue hampir ditunjuk sebagai ketua kelas, gue kaget, gue berusaha menolak, setelah adu mulut sebentar dengan senior, gue menang. Gue batal jadi ketua kelas.



***


Rasanya kalau MOS nggak pakai teka-teki barang bawaan kurang seru, kalo nggak disuruh-suruh nggak lengkap, kalo nggak dibentak-bentak kurang afdhol. Yah, semua itu gue terima di MOS ini, gue jadi kepikiran, Oh, jadi begini rasanya disuruh-suruh.. .  Gue inget kalo kelas 9 dulu gue juga nyuruh-nyuruh adek kelas yang baru masuk SMP. Inget rasanya dulu udah jadi senior, sekarang turun lagi jadi junior.

Walaupun teka-teki, suruhan, dan bentak-bentakannya aneh-aneh, gue tetap mengikuti MOS tiga hari ini dengan senyuman, serta menutup hari juga dengan senyuman. Yah, tersenyum memang pilihan yang paling pas. 

O iya, di MOS ini yang bikin gue paling excited adalah saat gue (kami) memilih ekskul. Cara gue (kami) memilih eksul adalah dengan mendatangi stand-stand yang ada di lapangan. Jadi berasa masuk ke anime-anime Jepang gitu. Begitu memasuki lapangan segera menyerbu senior-senior yang menawari ekskulnya. "Ayo dek, ikut ekskul ini, keren!!" Teriak para senior. Gue sempat bingung memilih ekskul, akhirnya gue milih fotografi dan satu ekskul olahraga. Basket (dengan sedikit paksaan).



Dan akhirnya MOS ditutup sore ini, jam 4.30. Ditutup dengan penglepasan balon yang udah diikatkan ke kertas. Kertas yang berisi harapan. Sore ini langit dihiasi dengan ratusan balon warna merah dan putih yang penuh denga harapan kami semua.




Dengan berakhirnya MOS, gue jadi dapet jawaban,

Dimanapun sekolahnya, kalau gue sengguh-sungguh dan semangat, kesuksesan juga bakalan dateng 
sendiri.


Selamat Sabtu malam! Selamat puasa, dan selamat memasuki tahun ajaran baru!!

Sabtu, 04 Juli 2015

Review Film : "Minions"

Rabu tanggal 1 Juli kemarin, sebenernya gue ada acara main bareng temen-temen. Tapi, nggak tau kenapa acara itu dibatalin begitu saja. Gue yang udah terlanjur siap mau nggak mau mengambil keputusan, gue harus jalan sendiri. Gue tetap di rencana awal, yaitu menonton film.

Dari rumah sekitar pukul 12.30, dengan mengenakan kemeja putih kebesaran dan celana jeans, gue berangkat. Sesampainya di mall, gue bergegas ke bioskop, gue belum beli tiket. Sesampainya di bioskop gue langsung antri, sampai akhirya tiba giliran gue. "Film apa kak?", tanya mbak-mbak yang jadi ticket seller-nya. Plis deh mbak, gue masih 15 tahun! Pikir gue dalam hati. Jujur aja, gue orangnya pemalu, super pemalu malah. Gue yakin temen-temen sekolah yang baca kalimat tadi pasti marah-marah dan bilang, "Pemalu apaan?! Nggak tau malu mungkin?!" Serius men! Kalo sendirian gue bahkan nggak akan bicara kalo nggak ditanya, beda cerita kalo ada temen.

Singkat cerita setelah menyebutkan judul film, menentukan jam, memilih tempat duduk, dan membayar, gue dikagetkan dengan teriakan mbak-mbak tadi. Entah itu memang SOPnya atau Si Embak memang nggak bisa ngomong pelan-pelan. "MINIONS, JAM 13.55, SATU TIKET. TERIMAKASIH!!" Gue kaget, dengan perkataan Si Embak itu, gue jadi kaliatan kayak laki-laki-jomlo-nggak-punya-temen-yang-pakai-kemeja-kebesaran. Ya mbak, terimakasih kembali, terimakasih karena telah mempermalukan saya. "Heh", suara hembusan nafas dari mas-mas yang ngantri dibelakang gue, dengan sedikit lirikan gue tau kalo dia nyengir. SIALAN!

Gue iseng, gue pingin tau Si Mas nonton apa. Oh, ternyata Terminator, Heh! apaan itu, nggak ada lucu-lucunya. Nggak seru! pikir gue.

Karena filmnya masih lama, gue memutuskan untuk jalan-jalan dulu. Gue ngerasa banyak yang merhatiin, sampai gue melewati segerombolan anak-anak muda, mungkin sepantaran gue. Mereka ngeliatin gue seolah-olah bertanya "Om-om kantoran darimana nih?". Gue memang norak.

Dan akhirnya tiba saatnya menonton.



Film dibuka dengan animasi-animasi sederhana yang nyeritain asal minion. Jadi, para minion ini dulu berasal dari laut, sesuai dengan teori (lupa namanya) bahwa kehidupan berawal dari laut. Ceritanya, dari awal para minion ini tercipta, mereka sudah mencari-cari makhluk yang mereka anggap berkuasa di suatu wilayah. Mereka sempet ngikutin T-Rex, manusia purba, Dracula, Fir'aun, sampai Napoleon Banoparte. Tapi, setiap kali mereka menemukan 'bos' baru, pasti si 'bos' itu terkena kesialan gara-gara ulah para minion itu sendiri. Sampai akhirnya mereka menemukan gua di antartika dan membuat peradaban.

Sampai bertahun-tahun, para minion akhirnya bosan dengan kehidupan tanpa 'bos' ini. Lalu muncullah seorang... sebuah (mungkin) minion bernama Kevin yang beambisi untuk mencari 'bos' baru. Bersama Stuart dan Bob, si Kevin ini memulai perjalanan untuk mencari 'bos' penjahat baru. Sampai-sampai mereka mendatangi pameran rahasia Villain-Con, dan bertemu Scarlet Overkill, penjahat wanita nomer satu.



Singkatnya, film ini lucu. Ada salah satu scene yang bikin gue ketawa keras. Sebenernya semua scene juga gue anggep lucu banget, tapi gue sedikit jaim karena takut digebukin satu studio kalo ketawa terlalu keras. Yaitu saat Stuart menghipnotis para penjaga mahkota Ratu Elizabeth. Terus waktu Stuart dikasih hadiah gitar listrik sama si Ratu. Gue jadi suka karakter Stuart. Di akhir film, gue dikagetkan dengan satu dialog Bob yang boneka beruangnya, Chip, dikasih mahkota sama si Ratu. Si Bob ngomong "Terimakasih-terimakasih". Gue browsing, ternyata sutradaranya masih punya darah Indonesia.

Pokoknya film ini cocok ditonton sama semua orang. Pulang nonton gue nggak bisa berhenti senyum-senyum sendiri. This is a good movie. Mungkin dengan senyum gue bisa ngerubah image yang tadinya laki-laki-jomlo-nggak-punya-temen-yang-pakai-kemeja-kebesaran jadi laki-laki-jomlo-gila-nggak-punya-temen-yang-pakai-kemeja-kebesaran. Yah, gue cuek aja. Gue membalas semua pandangan aneh tu dengan senyuman, sama seperti gue menutup postingan ini dengan senyuman.

Selamat Sabtu malam! Selamat puasa!