Sabtu, 21 Mei 2016

Writing Watches : Internet

Halo para manusia! HAH!? APA? Kalian nggak kenal aku? Halah, coba deh cek di sini

http://kisah2pelajar.blogspot.co.id/2015/04/writing-watches-halo.html?m=0

Akhirnya aku bisa kembali menyabotase blog Si Bro. Setelah sekian lama aku menunggu saat yang tepat buat mengambil alih laptopnya. Sekarang Si Bro sedang beli makanan di Indomart sedangkan aku ditinggal di wificorner sama temen-temennya. Sekarang temen-temen Si Bro udah ganti, meskipun masih ada yang sama.



Akhir-akhir ini, aku sering diajak Si Bro main ke wificorner, Katanya, wificorner itu tempatnya orang main internet, terus kalo warnet apaan dong? Di sini si Bro bisa main sama temen-temennya atau sendirian. Aku nggak begitu tau sih apa kegunaan internet, orang aku juga nggak pernah make.

Di sini tempatnya bisa berubah-ubah. Kadang sepi pada sibuk sendiri, kadang juga rame karena ada rombongan remaja yang mampir main. Kadang panas, kadang juga kejebak hujan. Yah namanya juga tempat umum. Si Bro cerita, kalo wificorner itu lebih nyaman dari warnet, lebih terang, lebih private, katanya. Tapi kalo menurutku sih ada plu-minusnya sendiri-sendiri antara wico (singkatan wificorner) sama warnet.

Menurutku, di warnet itu lebih nyaman karena tempat duduknya sendiri-sendiri dan bisa bebas sandaran. Kalo di wico kan tempat duduknya memanjang, jadinya nggak bisa diatur sesuai keninginan. Di kebanyakan warnet, masih kurang dalam penerangan, jadi kayak remang-remang gitu deh. Kalo di wico karena tempatnya terbuka nggak usah pake lampu, kalo malam juga lampunya cukup terang. Di warnet, kita bisa pilih paket-paket internet yang beragam, katanya sih rata-rata warnet bertarif 3000 rupiah perjam. Kalo di wico kita beli voucher gitu, yang paling sedikit 1000/3 jam. Jadi lebih murah di wico daripada di warnet. Kekurangan dari kedua tempat itu adalah sama-sama tempat umum, jadi segala bentuk pergaulan bisa masuk. Aku aja  belajar 2 kata-kata baru waktu diajak Si Bro ke wico, jomblo sama jones. Artinya apa sih? Kok waktu ada yang bilang gitu si Bro senyum-senyum sendiri.

Ya, kalo pengin yang nyaman dan aman, palin tepat ya pasang Home Internet sih. Kalo dirumah kan bisa main tanpa perlu takut dipandang nggak sopan sama umum. Kalo lupa waktu juga nggak masalah, kalo lupa waktunya di warnet atau di wico pasti bakalan dicariin orang-orang rumah. Kalo diingat-ingat sih, si Bro mulai sering-sering ke wico setelah home internetnya diputus. Kasihan.

Yah, akhirnya juga nulis di blog juga perlu internet. eh, jadi aku udah pernah make internet ya..

Eh, udah dulu ya si Bro udah balik dari beli makanan di Indomart. Selamat bermalam minggu! Maaf jones yang nggak malam mingguan! (Akhirnya aku tahu arti kata jones). Hehe.

Sabtu, 14 Mei 2016

[Bukan Review] Captain America : Civil War

Beberapa minggu ini kelas gue diributkan dengan berbagai macam hal. Yang diributkan macem-macem, kayak isi gado-gado. Ya, makanan lezat yang terdiri dari campuran sayur-sayuran lalu disiram dengan saus kacang yang manis menggoyang lidah. Hmm, gue jadi pengin gado-gado. Percayalah, paragraf ini gue buat semata-mata untuk menambah isi. Biar keliatan banyak gitu postingan nya.

Oke, balik ke topik awal!

Yang diributkan mulai dari pembagian kelompok bis acara Outclass, sampai nilai Ujian Tengah Semester yang mengkhawatirkan. Dari hal-hal penting seperti tentang bagaimana siput berkembang biak, sampai hal-hal yang nggak penting sama sekali seperti siapa guru tercantik di SMA N 6. Sampai pada suatu hari gue memulai sebuah percakapan.

"Eh, habis UTS jalan yuk!", Ajak gue. Padahal waktu itu UTS bahkan belum dimulai.

"Kemana?", Tanya beberapa temen kelas yang antusias.

"Nonton bioskop aja.", jawab gue.

"Nonton apa?"

"Gimana kalo Civil War?", usul gue.

Salah seorang temen cewek tiba-tiba teriak, "AADC 2, aja!"

"Yee, Civil War aja!", balas temen gue yang laki-laki.

"CW!"
"AADC 2!!"
"CW!!"
"AADC 2!!"

*GUE DIEM AJA

"CW!!!"
"AADC 2!!!"

*CIVIL WAR BENERAN.




***




Setelah disepakati bersama (sebenernya enggak). Geng perempuan memilih menonton AADC 2, sedangkan geng laki-laki memilih menonton Civil War. Kedua kubu akhirnya berdamai.

Setelah itu, gue bertanya lagi buat memastikan, jadi enggaknya acara nonton bareng ini. Mengingat acara-acara sebelum ini pasti gagal atau dibatalkan karena nggak ada koordinasi yang bener.
"Jadi mau nonton kapan?", mulai gue.

"Senin aja ya, setelah UTS terakhir.", usul salah satu suara.

"Eh, jangan duit gue belum cair kalo Senin. Rabu aja sehabis Outclass hari Selasa." bantah seseorang lagi.

Gue baru tau kalo anak SMA jaman sekarang menerima uang saku sama seperti orang gajian. Bulanan.

"Senin aja coeg!"
"Rabu aja !!"
"SENIN!!"
"RABU!!"

*GUE DIEM AJA

"SENIN AJA ANJ*NG!!!"
"RABU AJA TA**!!!" biasalah anak laki-laki suka ngomong kasar.

*CIVIL WAR BENERAN.


***


Dan akhirnya, disepakati bersama (sebenernya enggak) untuk nonton pada hari Rabu. Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Kami belajar, istirahat, bercanda, membaca buku, mengerjakan UTS, dan mengikuti outclass dengan hati yang riang. Sampai hari yang disepakati, setelah kegiatan outclass seharian, gue dan teman-teman masih diwajibkan masuk seperti biasa, mengikuti pelajaran. Karena berbagai alasan banyak yang absen pada hari itu. Total ada 15 murid yang berangkat dari keseluruhan 38 murid. GILAK! Nggak ada separonya.

Dengan amat terpaksa, acara nonton bareng diundur. Sampai waktu yang tidak ditentukan.

Akhirnya gue dan temen-temen bisa nonton pada hari Sabtu. Karena paginya gue dan temen-temen sekelas ada janji ketemuan di sekolah. Sehabis itu bisa langsung ke bioskop. Setelah pertemuan yang ternyata nggak menghasilkan apa-apa, gue dan beberapa teman akhirnya berangkat ke bioskop. Bayangin dari 10 orang laki-laki yang menyetujui ajakan gue beberapa minggu lalu, hanya 4 orang termasuk gue yang jadi nobar ke bioskop. GILAK! Nggak ada separonya.

Beberapa udah nonton sendiri, beberapa sudah kehabisan uang waktu outclass dan pergi liburan. Maklum waktu itu sedang long weekend. Gue sampai di bioskop sekitar jam 12-an, antre tiket, lalu memilih film dan tempat duduk. Seharusnya perkiraan gue masuk ke bioskop jam 2 siang, karena tiketnya habis gue terpaksa nonton jam 4 sore, dapat seat barisan depan lagi! Lengkap sudah penderitaan hari itu.

--Setelah lima jam menunggu--

[SPOILER ALERT!]



Di awal film, kita sudah disuguhi masa lalu 'Bucky' Barnes a.k.a Winter Soldier yang sedang dicuci otaknya sama organisasi jahat HYDRA. Gue gak bakalan cerita semua isi filmnya sih, karena pasti bakal jadi lama banget.

Inti ceritanya hampir sama sih sama versi komiknya (gue udah baca sih), si Ironman merasa bersalah karena kematian salah satu warga sipil, sedangkan si Capt. nggak rela identitas yang udah dijaga mati-matian dibocorin ke publik. Yah, keren sih filmnya. Si Vision sama Wanda "Scarlet Witch" udah keliatan tanda-tanda cinta, aneh juga mengingat Vision adalah manusia buatan. Kenapa manusia buatan bisa punya rasa cinta? Scott Lang "Ant-man" juga kocak banget walaupun cuman keliatan sebentar. Kemunculan pertama Black Panther yang lompat dari atas gedung juga keren. Adegan Captain America nahan helikopter apa lagi. Adegan waktu si Cap nahan blasternya Ironman pakai tameng sampai keliatan efek cahaya yang keren banget. Yang paling penting adegan waktu pengrekrutan Spider-man sama Tony Stark itu lucu banget. EMANG BENER KALO SPIDERMAN KALI INI BISA DIBILANG "SEMPURNA".

Gue jadi gak sabar buat nonton Spider-Man :Homecoming yang kabarnya si Ironman juga ikut main disitu. Bayangin aja 2 jenius kocak saling bertemu di salah satu film. Gue jadi gak sabar. Emang motivasi gue nonton Civil War ya karena mau liat Spider-man versi asli Marvel ini.

Pokoknya film ini wajib di tonton buat para penggemar The Avengers. Gue dengan sekejap melupakan pegalnya leher waktu nonton. Dalam hati gue bersumpah buat nggak lagi nonton di seat barisan 2 dari depan. Titik.

Akhirnya rencana nobar sukses dijalankan walaupun banyak halangan. Gue nggak tau gimana nasib geng perempuan yang mau nonton AADC 2. Yang penting Civil War selesai, saatnya menunggu Homecoming.


Selamat Sabtu malam.


Sabtu, 02 April 2016

TEROR

Ternyata nggak cuman Jakarta yang diteror. Gue pun minggu-minggu ini sedang diteror. Parahnya terorisnya adalah orang terdekat gue. Ya, orang ter-de-kat. Ibu. Dia lah biang kewas-wasan gue selama seminggu. Ceritanya dimulai sekitar lima hari yang lalu.

Sore itu, gue yang sedang berada di kamar dikagetkan sama Ibu gue yang tiba-tiba masuk. Dia duduk di sebelah gue yang sedang tiduran. Tiba-tiba satu pertanyaan tidak terduga keluar, loncat dari mulut Ibu gue dan langsung menusuk jantung gue. Rasanya kayak Ibu gue lagi megang senjata jenis AK yang pelurunya tinggal satu dan itu tertmbak tepat menembus jantung gue. Pertanyaannya, "Kak, pacarmu siapa?" That is a simple question, very simple question. Gue gak bilang ini pertanyaan yang mudah. Pertanyaan simple yang membuat gue hampir jantungan dan mati menggelepar. Siapa yang nggak kaget kalo tiba-tiba dikasih pertanyaan begini? Kalo pertanyaannya macam, sebutkan ciri-ciri Coelenterata, gue masih bisa jawab.

Gue diem sejenak, beberapa detik. Sampai akhirnya gue jawab "Nggak punya." Gue jawab jujur. Toh buat apa gue bohong dengan ngomong gue udah punya pacar? Kayaknya Ibu gue belum kehabisan amunisinya, dia reload lagi senjata nya. Bersiap dengan pertanyaan kedua. "Kenapa nggak punya?" Jeduarrrr... pertanyaan kedua ditembakkan, gue kaget lagi. Nggak mau jadi perang berkelanjutan gue milih jalan aman. Gue jawab, "Nggak tau." dan pergi keluar kamar. Malam ini, gue berhasil meloloskan diri.


Paginya, gue sudah siap dengan seragam sekolah dan bersiap berangkat. Langkah gue berhenti saat ada peluru lagi ditembakkan. "Kak! Salam buat pacarmu!" What the hell? Padahal gue udah bilang nggak punya. Kenapa tetep aja ditanya tentang itu. Yah, seperti biasa, gue lari dengan berteriak, "NGGAK PUNYA!" Gue langsung berangkat ke sekolah.

Terus begitu selama lima hari ini. Gue kayak seorang warga sipil yang megang senjata tapi ditembakin pake senapan. Gue cuman bisa lari. Siklusnya dimulai dengan pertanyaan "Kak, pacarmu siapa?" "Nggak punya." "Salam buat pacarmu ya." "Nggak punya!" Begitu terus. Malahan setelah geu bilang "Nggak punya!" Ibu gue menjawab, "Cari dong!"



ARRRGGHH!!!

Emang kenapa sih kalo gue nggak punya pacar? Apa setiap remaja laki-laki normal harus punya pacar? Apa pacar begitu penting buat kehidupan reamja? Apa Ibu gue takut kalo gue jadi gay? Mmmm, mungkin yang terakhir bisa jadi alasan yang pas. Tapi gue nggak bakalan jadi gay!!! Gue normal! Gue juga suka sama perempuan. Tapi gue takut memulai sebuah percakapan dengan perempuan. Gue takut ngobrol sama gadis remaja seumuran. Bahkan lewat chatting

Emang nggak ada alasan yang pasti kenapa gue bsia takut ngobrol sama perempuan. Gue aja bingung. Yah tapi kapan gue pacaran, itu urusan gue sendiri. Itu keputusan gue sendiri. Buat gue, saat ini gue belum butuh pacar. Saat ini gue masih belajar.

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 20 Februari 2016

Hikitori

Akhirnya, gue bisa sedikit bersantai di salah satu wificorner di pojokan kota Semarang. Akhirnya gue bisa ngeblog lagi. Sudah beberapa minggu gue cuman bergaul sama temen-temen sekolah dan buku pelajaran, sudah ada puluhan ide-ide tulisan yang datang menjejali otak gue, menunggu untuk dituangkan ke dalam blog.

Oke, langsung aja.

Di sebuah weekend sore, gue yang sedang sibuk menekan-nekan tombol remote TV, mencari acara yang sedikit bermutu tapi juga menghibur diselamatkan oleh ajakan keluar dari Ibu. Tentu gue dengan senang hati mengiyakan ikut. Sekeluarga kita berangkat menggunakan mobil. Masih belum tahu tujuan sebenarnya, gue udah ber-ekspektasi kalau gue bakal diajak jalan ke Mall, atau paling nggak Supermarket. "Ah, palingan mau belanja.", pikir gue.

Setelah sepuluh menit perjalanan, gue kecewa. Ternyata gue diajak nongkrong di Pantai Marina. Yah, yang menurut gue tempat itu lebih seperti perumahan elit yang deket sama dermaga. Sore itu, "Pantai Marina" terlihat membosankan, yah paling enggak nggak lebih membosankan daripada acara TV sekarang ini. Turun dari mobil, gue langsung mencari tempat duduk. "Pantai" sore itu nggak teralu ramai, cuman ada 2-3 kapal yang menunggu penumpang, beberapa bapak-bapak yang sedang mancing, beberapa anak-anak yang basah karena habis main air di laut, dan pedagang yang lagi nunggu dagangannya laku dibeli orang. Gue duduk dengan wajah datar.

Ayah, Ibu, dan adik gue bergabung, ikut duduk disebelah gue. Tempat duduknya cukup luas. Gue yang lagi kecewa menutup muka dengan smartphone. Main game. Ibu gue yang mau mesen minuman nawarin, "Kak, mau minum apa?" "Ngaak usah." jawab gue masih dengan smartphone menutupi wajah.

Selang sepuluh menit, adik gue minta naik kapal, tentu gue disuruh ikut, tentu gue menolak. Akhirnya adik gue naik bersama ayah. Tinggal gue dan Ibu, tiga menit berlalu gue masih sibuk dengan game yang gue mainkan. Tiba-tiba Ibu gue yang juga seorang perawat rumah sakit bicara, "Kak, kayaknya kamu kena penyakit deh.", gue kaget.

"Penyakit apa?"
"Itu loh, yang dari Jepang, yang dulu rame dibicarain." Ibu gue menjelaskan dengan gaya sok tau, masih belum mengatakan nama penyakitnya.
"Apa ya? Hiki... Hikitori kayaknya"

Gue nahan ketawa!

Gue tau apa yang Ibu gue maksud. Gue tertawa.

"Hikikomori!" jawab gue membenarkan. Dengan setengah berteriak dan menahan tawa.
"Oh iya, Hikikomori!"

Setelah kejadian salah-sebut-nama-penyakit itu, gue jadi senyum-senyum terus. Sampai tiba saatnya pulang. Diperjalanan, gue keinget lagi kejadian salah-sebut-nama-penyakit tadi. Buat yang belum tahu Hikikomori, hikikomori adalah penyakit sosial dimana sang penderita merasa tidak membutuhkan kehidupan sosial. Singkatnya, anti-sosial. Lebih lengkapnya bisa dibaca sendiri di sini: Hikikomori Wiki .

Di perjalanan pulang gue diem seribu bahasa. Mikirin mungkin bener apa yang ibu gue katakan. Mungkin gue udah mulai mendekati hikikomori. Mungkin gue udah mulai anti-sosial. Gue nggak mau cuman hidup di kamar persegi 3x2 meter. Gue masih punya kehidupan lain. Gue masih punya temen-temen. Gue masih normal.

Oke, segini dulu cerita gue kali ini. Semoga kalian suka, semoga kalian nggak jadi hikikomori. Jadi setelah selesai baca postingan gue kali ini, tutup browser kalian, dan temuilah kehidupan sosial kalian.

Selamat Sabtu malam!



Sabtu, 05 Desember 2015

UAS : Ujian Anak Sholeh

Minggu ini gue juluki sebagai week of hell. Kenapa? Karena minggu ini gue disibukkan dengan tugas yang menumpuk dan UAS. Ya, Ujian Akhir Semester. Terus kenapa UAS versi gue artinya Ujian Anak Sholeh?

Jadi, menurut gue UAS sebenernya lebih jadi ujian kejujuran daripada ujian akademik. Yah, kalian tahu sendiri. Sekarang ini masih banyak yang nyontek waktu UAS kan? Nah, ini jadi Ujian tersendiri buat gue.

Banyak banget cara buat nyontek. Kayak buat catetan kecil di kertas sobekan, tanya jawaban ke temen, bawa buku di laci, sampai pura-pura ke kamar mandi. Bahkan ada yang ketahuan tapi nggak kapok nyontek lagi besoknya. Gila nggak? Nggak sih, gue kira di zaman modern gini peluang buat nyontek malah bertambah. Di zaman se-modern ini, cheating is normal.



Kejujuran. Itulah yang bangsa Indonesia saat ini perlukan.Itu yang saat ini pelajar Indonesia butuhkan. Nggak cuma pelajarnya, bahkan juga para pemimpinnya. Hilangkan korupsi, hilangkan budaya nyontek. Kalo temen-temen gue nyontek, siapa yang susah? Pastinya gue sendiri. Kenapa? Coba kalo semua temen-temen gue nyontek, terus nilai mereka bagus, lah gue yang nggak nyontek bisa kalah sama mereka.

Yah, akhirnya semua kembali ke diri kita masing-masing. Mau nyontek, mau enggak, itu terserah masing-masing dari kita. Gue nggak ngelarang temen-temen gue nyontek. Tapi, kalian sendiri yang menuntut, "Kapan Indonesia maju?" "Kapan internet cepet?". 

Lah, kapan Indonesia mau maju kalo genereasi penerusnya udah terbiasa buat kecurangan?


Buat yang masih suka nyontek, Kecurangan itu cuman ngasih kemudahan sementara.


Selamat Sabtu malam!