Sabtu, 24 Oktober 2015

Tutorial Memotret Light Trails (Fotografi)

Kembali lagi ke segmen Tutor Ngawur. Tapi, kali ini gue mau bahas tutorial yang agak bener. Tutorial kali ini masuk ke dunia fotografi, cara memotret 'Light Trails'.Sebenernya sih gue juga belum terlalu jago dalam dunia fotografi, tapi trik ini udah gue uji dan berhasil, jadi nggak ada salahnya gue share. Light trails apaan sih? Jadi light trails itu... emm.. gimana ya... gue jelasin pakai contoh aja, deh.

Gini nih, Light Trails. Source :google.com

Nah, udah paham kan apa itu Light Trails? Belum? Gugling sendiri lah. Oke, lanjut ke tutorial.

Hal-hal yang kalian butuhkan (menurut gue) antara lain:
  1. Kamera. (iyalah!) kalo gue pake kamera DSLR, nggak tau pocket cam bisa apa nggak
  2. Tripod, kalo ini yang punya aja, nggak wajib. Gue aja nggak punya tripod!
  3. Lens Hood, nggak wajib banget!
  4. Keberuntungan. Ya, kalo ini sih buat gue aja, maklum amatiran. Kadang beginner's luck ngebuat foto jadi lebih keren. Atau cuman gue aja ya?
  5. Teman. Ini sih nggak penting, kecuali kalian rela kesepian. Tapi gue saran in bawa temen buat ngobrol.
Setting kamera:
  1. Setting kamera ke mode manual, kalo di kamera gue simbolnya "M"
  2. Atur ISO kalian ke angka paling rendah, punya gue, sih 100
  3. Set Aparture ke paling tinggi, biasanya f/4 atau f/8 (semakin kecil angka semakin baik)
  4. Nggak usah pake flash
  5. Atur speed shutter diatas 10" (detik), gue pake yang 30" atau kalian bisa coba BULB mode.
  6. Atur titik fokus ke infinity.
Apa-apa yang harus kalian lakukan:
  1. Cari tempat aman buat memotret, contohnya di pinggir jalan atau trotoar. Jangan di tengahnya, nanti ketabrak. Eh tapi kalo ditengahnya ada median jalan nggak masalah sih, kalian bisa ambil foto disitu. Ato kalo nggak kalian cari jembatan penyebrangan buat ngambil foto diatasnya.
  2. Taruh kamera diatas tripod. Ingat, tripod nggak wajib. Cuman kalian harus pinter cari tempat yang rata untuk menaruh kamera. Kalo saking kepepetnya nggak ada tempat, kalian bisa pegang kamera langsung dengan catatan nggak boleh bergerak. Lamanya tergantung kalian set berapa speed shutternya.
  3. Cek settingan kamera kalian seperti yang diatas, nggak wajib sih, kalian bisa coba ber-eksperimen sendiri
  4. Bersiap untuk menekan tumbol shutter, kalo bisa baca do'a dulu sebelum menekan.
  5. Tekan tombol shutter, lalu tunggu. Lamanya anda menunggu tergantung ke-peka-an si dia.... eh, eh.. ngawur! Tergantung speed shutternya, kalo kalian set ke 30 detik ya kalian tunggu 30 detik. Nah, disini teman berperan penting buat ngusir rasa bosen. Kalian bisa ngobrol in soal pelajaran, sekolah, politik (kalo suka), dan lain sebagainya.
  6. Langkah terakhir adalah menikmati hasil foto kalian!

Light Trails by Khashaaisha Al Fikri, shutter speed 30", aparture f/... (lupa)

Oke, tutor ngawur kali ini selesai (padahal nggak ngawur-ngawur banget). Kalo ada yang kurang paham bisa di tanyakan di komentar, atau kalian cari sendiri tutorial di yutub.

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 17 Oktober 2015

Para Penegak Calon

Pertama-tama, persilahkan gue untuk meminta maaf dulu sama kalian, karena udah dua minggu gue nggak update. Ini karena dua minggu yang lalu dan minggu kemarin gue disibukkan dengan UTS. Ya, nggak kerasa gue udah menjalani SMA selama setengah semester. Cukup cepat. Udah lah, nggak usah lama-lama. Gue akan bercerita pengalaman Penerimaan Penegak Calon kemarin.


Oke, gue saranin kalian duduk manis dan ambil setoples cemilan, because this is a long story.

Waktu itu...


Hari Senin, dari pagi buta gue udah bangun dan siap-siap. Tas yang berisi baju dan perlengkapan yang udah gue siapin malemnya udah gue tata rapi. Nggak lupa seikat kayu bakar yang gue beli dengan selembar uang 5000an tapi beratnya udah 3 kiloan (itu kalo gue nggak salah ngira). Gue udah siap didepan, tinggal nunggu seorang pembalap yang bakal nganter gue ke sekolah. Setelah si pembalap siap, gue dan dia masuk ke mobil, kunci belum benar-benar terputar, gue udah teriak duluan, "Oiya, tongkatnya lupa!". Gue pun turun dari mobil dan ngibrit ngambil tongkat pramuka. Gue emang pelupa, kadang-kadang.

Sampai di sekolah, gue yang optimis akan jadi orang pertama di sekolah harus menunda perasaan itu. Mungkin lain kali, gitu pikir gue. Ternyata di sekolah udah rame banget. Padahal itu jam 6 looh. Anak-anak berjalan cepat dengan membawa bawaanku mereka masing-masing. Ada yang bawa carrier (gila, dia pikir kita mau naik gunung), ada yang sampe bawa 2 tas ransel, bahkan ada yang sampe narik-narik koper walaupun dipunggungnya udah ada ransel besar.

Mendadak pagi itu semua kelas sepuluh kayak mau minggat berjamaah. 

Gue bahkan cuman bawa satu tas ransel yg isinya perlengkapan secukupnya, tongkat pramuka dan seikat kayu bakar 5000an yang beratnya sampe 3 kilo (itu kalo gue nggak salah kira).

Setelah menaruh barang di kelas, gue selaku wapinsa (wakil pemimpin sangga) mengecek kelengkapan barang se sangga. Ada pasak, tikar, palu, alat buat lomba masak, dll. Yak semua lengkap! Kita semua dikumpulkan di lapangane Untuk mengikuti apel pemberangkatan. Yah, setelah apel yang sebenernya nggak penting, kita semua berangkat menuju bumi perkemahaan. Naik apa? Pertanyaan bagus. Kita naik truk polisi, setiap kelas naik satu truk. That's new experience. Naik truk polisi di jalan tol dengan kecepatan penuh sukses buat rambut berdiri dan mulut kering.

Sesampainya di bumi perkemahaan kita langsung diarahkan Untuk membangun tenda. Tenda pinsa gue udah berdiri karena ternyata 2 hari sebelum kami kemah, sudah ada yang kemah duluan. Sangga kami tinggal merapikan tenda, membantu sangga lain yang tendanya belum berdiri, lalu duduk santai di dalam tenda. Gue baru sadar, bumi perkemahan ini sama waktu gue SD dulu. Gue ternyata pernah kemah disini, tepatnya di Bumi Perkemahan Karanggeneng. Jadi semacam deja vu nostalgia gitu (*lah).

Setelah waktu bebas itu, kita dipersilahkan makan siang. Ternyata alat masak yang kita bawa itu cuman buat lomba masak di hari kedua, bukan untuk masak setiap harinya. Kita makan makanan jadi yang dimasak sama warga sekitar, Namanya bu Darsih. Dia yang mikirin menu makan 500 orang tiga kali sehari. Puas mengisi perut kita diberi waktu bebas lagi, setelah itu kita ke lapangan utama untuk melakukan upacara pembukaan. Terik matahari membakar, awan-awan sialan yang nggak tau kemana saat dibutuhkan, gue nggak ngedengerin pidato pembukaan dari kepala sekolah sama sekali. Gue kepanasan.

Setelah upacara, acara selanjutnya adalah sholat. Setelah sholat, acaranya padet banget, sepadet jalanan Jakarta kalo lagi macet. Pinsa-Wapinsa ikut koordinasi, 3 anggota sangga ikut game, 1 ikut apel sore, dan seharusnya 1 lagi buat ngejaga tenda. Tapi sangga gue cuma terdiri dari 6 orang, jadi nggak ada yang ngejaga tenda, untung sangga disebelah gue ada yang ngejagain jadi gue bisa nitip tenda. Gue duduk di kursi aula mendengarkan materi koordinasi dari kakak kelas dengan malas, sedangkan sorak-sorak orang-orang yang ikut game terdengar, kayaknya seru, pikir gue dalam hati.

Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib, kita diberi istirahat buat nunggu makan sholat Isya' sama makan malam. Setelah sholat dan makan, para anggota bebas, sedangkan kami para pemimpin dan wakilnya harus mengikuti materi dan koordinasi buat acara besok. Pinsa ikut materi, wapinsa ikut koordinasi, perfek kombinasi. Sepuluh menit pertama koordinasi berhasil gue lewat dengan biasa-biasa saja, menit berikutnya gue udah mulai ngantuk, nggak sampe tiga menit wapinsa yang lain juga merasakan hal yang sama. Isi koordinasinya nggak terlalu penting, toh sama dengan koordinasi waktu sore tadi. Kita protes minta dipulangkan ke tenda, kita protes minta tidur.

Akhirnya kita dipulangkan ke tenda lebih awal dari jadwal. Gue lihat dari kejauhan tenda gue rame penuh orang. Ternyata temen-temen sekelas, kampret mereka malah pada enak-enakan disini padahal gue mati-matian nahan ngantuk buat ngedengerin koordinasi. Gue usir mereka ke tenda masing-masing, soalnya udah mau jam malam. Gue usir mereka jam 10 an, sedangkan jam malam berlaku mulai jam 10.30. Gue suruh anggota gue masuk tenda, sebelum tidur gue kasih tau mereka apa yang harus mereka lakukan besok. Setelah berdo'a, gue suruh mereka tidur, lebih tepatnya berusaha tidur. Alarm gue set ke jam 12.00, setengah jam sebelum acara pertama kita besok dimulai. Gue berhasil tidur jam 10.45.


***

Alarm gue berbunyi tepat pada waktunya, gue malah udah bangun dua menit sebelum alarm gue bunyi. Langsung gue bangunkan temen-temen dan nyuruh mereka buat ganti baju pramuka lengkap, nggak lupa gue ingetin mereka buat pake kaos dobelan (ini tips yang dikasih tau kakak kelas waktu koordinasi). Jam 12.15 kita semua udah siap dengan seragam lengkap, sisa 15 menit lagi. Gue nyuruh temen-temen untuk jangan keluar dulu, takut dimarahin sama kakak kelas. Terdengar suara langkah kaki kakak kelas yang sedang patroli, tiba-tiba tenda di sebelah tenda gue mengeluarkan bunyi alarm. Huh, amatiran, masa nyetel alarm mepet banget. Sekitar tiga puluh detik bunyi alarm masih nyala, tandanya mereka belum pada bangun. Dari dalem tenda gue dikagetin sama teriakan kakak kelas "DEK, ALARMNYA DIMATIIN!". Gue tau, teriakan itu ditujukan tenda sebelah gue, pada saat itu juga alarm mati. Entah dimatiin atau emang udah selesai alarmnya.

12.30
Tiba-tiba teriakan kakak kelas terdengar, "Dek bangun! Ayo kelapangan utama sekarang!!". Sangga gue yang emang udah siap langsung keluar dari tenda dan pake sepatu, terus ngibrit ke lapangan. Ternyata sangga gue bukan sangga pertama yang sampe ke lapangan, ternyata gue juga salah strategi. Pelan suara pembina pramuka terdengar, walaupun pelan suaranya tetep tegas, berhasil ngebuat muka-muka mengantuk 400an orang terjaga. Nggak ngomong lama, kita langsung diarahkan ke lapangan "tempat suci", yang akan kita pakai buat upacara penerimaan penegak calon. Jalur jalan kita dipisah, antara laki-laki dan perempuan.  Sebelum sampai di lapangan "suci" kita disuruh cuci muka pake air kembang. Makin berasa mistis.

Di lapangan 'suci' ternyata antara laki-laki dan perempuan dikumpulin lagi. Upacara berlangsung, karena ada masalah yang cukup berat, jadi upacara jadi molor lama banget. Akhirnya masalah selesai, dengan hasil 8 orang tidak diterima masuk penegak calon. Kaki gue udah kesakitan disuruh berdiri lama-lama, akhirnya upacara selesai. Kita dipersilahkan duduk ditempat dan dibagi badge Ambalan. Acara puncak Upacara Penerimaan Penegak Calon, kita disuruh menjahit badge itu di lengan baju pramuka sebelah kiri. Ini tadi gunanya pake kaos dobelan, gue bisa leluasa ngelepas baju dan ngejait. Dengan bantuan cahaya bulan dan sebatang lilin, akhirnya jaitan gue selesai, walaupun nggak rapi, gue tetep bangga sama jaitan gue sendiri. uktinya udah dua minggu badge gue yang miring belum gue benerin. #BanggaJaitanSendiri.

Upacara selesai jam 02.45 , Kita kembali ke tenda, gue udah nggak bisa tidur lagi dan memutuskan untuk mandi. Oiya, sorenya gue nggak mandi. Temen-temen juga mau mandi, jadi kita ke kamar mandinya barengan (cuman ke kamar mandinya). Karena kita takut mandi di kamar mandi bawah, kita memutuskan untuk mandi di rumah warga yang memang bayar kalo mau make. Eits, jangan bilang gue penakut, kita emang dilarang make kamar mandi bawah (yang emang satu-satunya kamar mandi cowok) setelah Maghrib sampai setelah Isya' karena emang udah ada pengalaman yang 'dilihatin' sama 'kemasukan'. Tapi, siapa yang mau mandi dengan larangan gitu walaupun udah pagi buta? Di kamar mandi warga tentu kita harus antri, tapi nggak gue sangka, gue yang udah dateng cepet-cepet tetep harus ngantri 4-5 orang. Ya, emang belom jatah gue.

Paginya kita semua dikumpulin di lapangan utama lagi buat senam pagi, terus kita istirahat, terus kita makan lagi di rumah Bu Darsih, Jam 09.00, wapinsa harus ikut materi, 3 orang anggota ikut outbond dan 2 orang anggota ikut lomba masak. Gue setengah ngantuk negedengerin materi, apalagi di aula atas lantainya dingin. Jam 11.00 semua kegiatan selesai, gue dengan setengah lari menuju tenda, gue pengin tidur. Waktu istirahat kali ini emang lumayan lama, kita cuman nunggu sholat Dzuhur dan makan siang. Walaupun tadi gue ngantuk banget nggak tau kenapa waktu di tenda gue nggak bisa tidur malah ngobrol sambil ngemilin jajan. Gue nggak jadi tidur.

Sholat, makan siang, dan gue masih pengin tidur, Tapi nggak bisa lagi karena pinsa gue ngotot mau bersihin tenda. Gue ngalah, bukan, gue kalah. Karena gue cuman wapinsa, gue nggak bisa ngelawan pinsa. Gue nggak jadi tidur (lagi). Jam 15.00 semua dikumpulin lagi di lapangan utama buat memulai hiking. Kali ini gue tinggalin satu anggota buat ngebersihin sama ngejaga tenda. Hiking selesai 17.00, di hiking ini juga jadi perlombaan buat kita semua. Sore itu, gue udah janjian sama temen-temen setenda kalo nggak usah mandi, dan mereka setuju karena emang kamar mandinya penuh banget. Gue usulin kalo gue akan ngebangunin mereka jam 3 buat mandi. Mereka mengangguk.

Setelah sholat maghrib-makan malam-sholat Isya', acara dilanjutkan dengan malam api unggun. Kami dikumpulkan dilapangan api unggun yang udah ditaruhi lampion-lampion cantik dan ada tumpukan kayu bakar ditengahnya. Upacara penyalaan api unggun berjalan lancar dan khidmat. Setelah itu adalah acara pentas kesenian yang diikuti setiap kelas. Pentas ini juga ada juara dan hadiahnya. Menari, nyanyi, modern dance, sampe akustik, hingga acara selesai. Kami beru kembali ke tenda sekitar jam 23.30. Gue berjalan cepat ke tenda, ingin cepat-cepat tidur.


Baru 10 menit kami sampai di tenda, suara peluit panjang dari arah lapangan utama. Delapan kali, artinya itu menyuruh kami untuk berkumpul. Ada apa kah ini?! Tanya gue dalam hati. Dengan kaos, celana training, dan sandal jepit, gue setengah berlari ke arah lapangan. Pinsa dan anggota-anggota gue udah duluan, emang gitu urutannya, pinsa memimpin pertama, anggota ditengah-tengah,dan wapinsa terakhir untuk mengecek anggotanya. Ternyata, ada masalah lagi, setelah 8 orang tidak diterima, kali ini ada yang keluar dari perkemahan tanpa ijin. Mungkin mereka kira, kalo udah diterima bisa bebas seenaknya. Jadi malam itu, sebelum gue tidur, sebelum kita semua tidur, semuanya harus di absen.

Setelah absen, kita semua kembali ke tenda, kali ini benar-benar bersiap tidur. Jam menunjukkan angka 00.00, gue menyuruh semua anggota untuk langsung tidur. Setelah berdo'a, dan menyetel alarm untuk jam 3 nanti kami semua tidur, setidaknya tidur dengan tenang karena malam ini kami bebas dari upacara pagi buta.


***

Tenda gue adalah satu-satunya tenda yang mengeluarkan suara alarm pagi itu. Jam 03.00 tepat, gue buru-buru mematikan alarm dan membangunkan temen-temen untuk mandi. Setelah berusaha membangunkan temen-temen gue berhasil membangunkan satu temen, gue bangunin yang lain. Lima menit kemudian, gue menyerah. Mereka nggak mau bangun, akhirnya gue cuman berdua ke kamar mandi warga. Sampai di kamar mandi, perkiraan gue tepat. Belum ada siapapun yang mandi, gue bisa leluasa mandi lama-lama.

Gue akhirnya kena marah temen-temen se sangga lain karena nggak ngebangunin mereka. Mereka bangun jam setengah lima. Gue nggak salah karena gue udah berusaha negebangunin mereka.

Setelah senam pagi, kita diabsen lagi, dan ada masalah lagi (udah nggak usah gue bahas, kelamaan). Lalu dilanjutkan dengan sarapan, dan bersih-bersih tenda. Tenda udah dibersihkan dan diambrukkan, kita berkumpul di lapangan utama untuk mengikuti upacara penutupan. Padahal baru jam 11, tapi matahari udah sangat nggak bersahabat, gue jadi nggak ngedengerin apa kata pembina upacara. Setelah upacara, dilanjutkan dengan pengumuman juara-juara. Kita se sangga udah pesimis bakalan menang, bahkan pinsanya sendiri bilang, "Kita nggak pernah menang lomba.". Setelah semua lomba udah disebutkan dan kami bukan juaranya, tinggal satu lomba lagi, LOMBA MASAK. Come on, mana mungkin anak laki-laki macam kita juara masak? Pikiran kita se sangga. Tapi saat diumumkan, "Juara 1 Lomba Masak, dimenangkan oleh sangga... Pencoba 2 MIA 1!". Kita semua nggak percaya. ITU KITA! Gue kelepasan teriak keras, sampe diliatin anak-anak lain. Sial.

Yang penting, sian itu, Pencoba 2 MIA 1, Menang. Lomba MASAK.


Akhirnya perkemahan selesai, kita pulang lagi ke sekolahan. Naik truk polisi lagi, rambut gue berdiri lagi, mulut gue kering lagi. Sampai disekolah, gue udah ditunggu. Setelah pamitan, gue pun pulang.

Di rumah, gue langsung mandi, makan, dan tidur.

~Fin~


Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 26 September 2015

Kemah

Hari Senin besok gue akan mengikuti salah satu kegiatan yang memebuat kehidupan SMA gue penuh kenangan. PPC, Penerimaan Penegak Calon, acara tahunan bagi anak-anak kelas 10. Gue bener-bener nggak sabar mengikuti PPC ini. PPC ini berbentuk perkemahan 3 hari 2 malam. Baru liat jadwalnya aja otak gue udah berimajinasi bagaimana keseruan kegiatannya nanti. Jadwalnya padat benget!

Nggak berbeda dengan jadwalnya, barang bawaannya juga ikut padat. Gue diharuskan membawa barang-barang yang nggak tau cukup dimasukkan ke satu tas atau nggak, belum lagi bawaan per sangga, Gue juga nggak tau seberapa berat bawaan gue nanti. Otak gue udah gue larang berimajinasi. 

Tempat perkemahan tahun ini di Karanggeneng, Gunung Pati. Gue juga belum tau pasti gimana tempatnya. Yah, bagi gue yang terpenting adalah kamar mandinya, karena kalau kamar mandinya kotor, bisa dipastikan selama 3 hari itu gue ogah-ogaham mandi. Oke, gue nggak akan ngebayangin hal itu dulu.

Salah satu hal yang membuat perkemahan menyenangkan adalah tidur di tenda. Udah lama juga gue nggak tidur di tenda, kurang lebih sudah 3 tahun. Tiga tahun yang lalu, kira-kira waktu gue duduk di kelas 6 SD. Sekolah gue mengadakan perkemahan 3 hari 2 malam juga. Gue masih inget, walaupun udah lupa nama tempatnya. Gue saat itu jadi ketua regu, dan mempin anggota gue mengikuti perkemahan. Oke, malam ini gue nggak akan flashback. Gue capek mengingat.

OH IYA!!!!!

GUE BELUM DAPET KAYU BAKAR!!


Yaudah ya, gue mau cari kayu bakar dulu buat barang-barang kemah besok. Pokoknya bakalan gue ceritain apa yang gue alami disana.  

Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 19 September 2015

Sunday Trip!

Minggu lalu, gue dan teman-teman memutuskan untuk melakukan Sunday Trip (asek, bahasa gue :)...). Kita udah penat dengan aktifitas seminggu yang super padat dan melelahkan. Teman-teman gue lelah karena belajar dan mengeluh, gue lelah karena belajar dan mendengar keluhan-keluhan mereka. Oke, perlu kalian tahu, gue nge-trip nggak bareng teman kelas maupun teman sekolah. Gue jalan bareng teman-teman gue waktu SD.

Mungkin dari kalian ada yang nanya, (mungkin sih...) "Kenapa masih bisa akrab sama temen-temen SD sih? Gimana caranya?" Atau semacam itulah. Jangankan kalian, gue bahkan nggak tau jawabannya. Mungkin karena selama 6 tahun di SD gue orangnya baik banget, atau mungkin karena gue enak diajak jalan-jalan. Entahlah, hanya teman-teman SD gue yang tahu.

Ya, oke, kita lanjut aja ke cerita.

Berawal dari Minggu pagi, sangat pagi malah. Gue yang emang udah merencanakan trip ini segera bersiap. Cuci muka, sikat gigi, dan nggak perlu mandi. Perjalanan gue dimulai degan menjemput salah satu teman di rumahnya. Dia adalah Jamal. Jamal sudah beberapa kali gue ceritakan di blog ini. Jadi nggak perlu di jelaskan lagi. Setelah itu, gue dan Jamal, berangkat menjemput Dias. Temen SD kita juga. Setelah pengecekan barang selesai, kita pun siap berangkat!

Tujuan kita adalah Air Terjun Gonoharjo. Air terjun yang terletak di Desa Gonoharjo, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Gue, Jamal dan Dias berangkat dari jam 6, mengendarai 2 sepeda motor. Perjalanan ke air terjun awalnya lancar, sampai kita bertemu sebuah penunjuk jalan yang menyesatkan. Penunjuk jalannya sih bener, tapi jalan yang ditunjuk berakhir pada jalan alternatif. Sampailah kita menghabiskan waktu lebih lama di jalan. Jalanan terjal, jalanan curam penuh batu dan lubang membuat motor yang kami naiki terhambat. Prinsip yang gue pegang saat itu adalah, jalan pelan-pelan asalkan selamat. Jujur aja, itu kali pertama gue naik motor di jalan alternatif. Gue taku... bukan, bukan takut. Gue ngeri.

Tapi jalan alternatif ini juga memiliki kelebihan sendiri, yaitu pemandangannya yang bisa gue pastiin nggak bakalan ada di jalan utama.


Pemandangan di sekitar perjalanan.

Yap, setelah gue melewati jalanan yang sangat menyita waktu, dan menguras tenaga, akhirnya kita sampai. Kita sampai sekitar jam 8. Setelah memarkirkan motor, kita bergegas membeli tiket, masih sepi, parkiran hanya terisi 10-15 motor. Harga tiketnya  cuman 8000, cukup murah untuk wisata air terjun dan pemandian air panas. Perjalanan gue ternyata belum berakhir, gue harus menempuh jalanan setapak menurun yang gue kira-kira kurang lebih 500 meter. Kalo gue sih...

Setelah menempuh jalanan setapak menurun yang lumayan bikin keringetan tapi kebayar sama keindahan view disekelilingnya, gue sampai di barisan warung-warung. "Gue kesini nggak cari warung! gue cari air terjun!" pikir gue dalam hati. Setelah melewati barisan warung-warung, ternyata gue nggak langsung dipertemukan dengan air terjun. Gue dipertemukan dulu sama kolam pemandian air panas dulu (nggak gue foto). Ternyata perjalanan ke air terjun masih menempuh jalanan setepak lagi.. Jauh di depan...

Ya, gue masih sanggup. MASIH.

Perjalanan menuju air terjun dimulai. Gue berjalan dengan semangat. Di tengah-tengah, jalan dipotong oleh sungai yang kalo diperkotaan bisa jadi tempat wisata yang tiket masuknya 20.000. Jernih banget.
Gue menyegarkan diri disitu, airnya sejuk.

Jamal melepas penat.

Setelah puas main disungai. Kita ,melanjutkan perjalanan, naik-turun jalan setapak, penuh batu-batu tajam. Gue saranin kalian kalo kesini pakailah sepatu. Jalan setapak ini kalau gue kira-kira kurang lebih 800 meter, kalau gue sih...

Dan akhirnya, setelah sejam lebih berjalan karena sering istirahat, kita akhirnya sampai. Di Air Terju Gonoharjo!


Air tejun ini tingginya kurang lebih 25 meter (kata mas-mas yang gue tanya sih). Sampai disini kecapean, dan keringet gue terbayar lunas! Air terjun yang keren ini sukses buat gue terpesona. Sayang, di sepanjang jalan masih banyak sampah-sampah bekas turis nggak berperasaan. Coba gue bawa kantong plastik, pasti gue pungutin deh.

Kita pun nggak cuman ngeliatin air terjun aja. Kita mencoba main air disini. Diawali dengan Jamal dan Dias yang langsung nyebur setelah melepas sepatunya. Dan gue masih dipinggiran karena harus mengambil gambar mereka (alesan). Oke, jujur, gue takut.

Dias.

Jamal
Dan akhirnya tiba saatnya gue ikutan nyemplung. Masa gue kesini nggak nyemplung, kan nggak afdol. Gue langsung lompat ke air dan... TERNYATA AIRNYA DINGIN BANGET!!! Ini adalah air terdingin yang gue buat mandi. Gue nggak kuat lama-lama, dinginnya air ditambah angin dari air terjunnya ngebuat badan jadi menggigil hebat. Gue kalah dimenit ketiga.

FREEZING..

Setelah puas bermain air, gue kembali turun. Melewati jalan yang sama, bedanya gue kali ini turunnya nggak pakai sepatu. Dan gue menyesal. Setelah sampai di kolam air panas kita kembali menceburkan diri di kolam air hangat. Berendam di sana berlama-lama. Feel like yaccuzi...

Setelah puas berendam, dan bilas, kita pulang. Kali ini lewat jalan utama tentunya, karena kita kapok lewat jalan alternatif. Hilang sudah kepenasaran gue  tentang air terjun ini...

Di rumah, gue berpikir, rencana Sunday Trip bareng temen-temen harus gue susun kembali, di tempat tujuan yang berbeda tentunya...


Selamat Sabtu malam!

Sabtu, 12 September 2015

Duka dan Gembira

Hari itu sahabat terdekat gue udah nggak bisa bersama gue lagi. Namanya Pec. Dia udah pergi ninggalin gue. Padahal baru 5 tahun gue bersama dia. Walaupun gue tau 5 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi tetep aja kayaknya baru kemarin gue ketemu dia. Sebenernya gue juga nggak tau alasan dia pergi secepat ini. Tau-tau dia udah nggak berdaya lagi. Kondisinya parah, salah satu tangannya putus.

Pagi itu gue bangun seperti biasa, makan seperti biasa, dan nonton kartun pagi seperti biasa. Itu semua gue lakukan bersama dia. Tapi gak tau kenapa, sekitar pukul 10.30 waktu gue lagi iseng manasin mesin kamera, tiba-tiba salah satu tangannya putus. Gue panik, dan segera minta bantuan. Tapi percuma, dia udah gak tertolong.

"Kenapa secepat ini? Kenapa harus hari ini?! Padahal besok ujian! Gue kan nggak bisa hidup tanpa Pec!"

Selamat Tinggal Pec.

si Pec.
Ya, Pec adalah sebuah kacamata. Eits, jangan salah! Walaupun dia kacamata, tetep aja dia sahabat gue yang paling setia. Waktu gue seneng dia ada, waktu gue nangis kejer juga dia masih nempel di kepala gue. Banyak kenangan yang tercipta antara gue dan Pec selama 5 tahun ini. Dia rela gue pake waktu tidur (sebenernya ketiduran), dia nggak protes waktu air mata gue netes ke lensanya, dia juga nggak marah waktu kena bola basket. Pokoknya gue sayang sama Pec.

Karena gue nggak bisa hidup tanpa Pec (baca : kacamata). Akhirnya gue ke optik langganan untuk beli kacamata baru. Begitu sampai di depan optk, aura ratusan kacamata berbagai model langsung terasa. Baru melewati pintu masuk, ratusan kacamata berbagai model itu teriak,

"Beli aku!"
"Pilih aku!"
"Jangan, pilih aku aja!"
"Hargaku lebih murah, beli aku aja!"
"Aku lebih keren, beli aku aja!"

Gue bingung.

Gue butuh waktu setengah jam lebih untuk memutuskan kamata mana yang gue beli. Si Pemilik Optik (yang juga udah kenal gue) sampai mengeluarkan puluhan model kacamata yang selalu gue tolak, "Ah, gak cocok pak." Sampai pada satu kacamata yang ngebuat gue mikir, "Keren juga." Tanpa pikir panjang--karena si Pemilik Optik juga udah keliatan jengkel-- gue langsung bilang, "Yang ini keren juga pak, ambil yang ini deh." Si Pemilik Optik pun tersenyum lega bahagia.

Kacamata ini sebenernya sama kayak kacamata-kacamata lainnya. Yang bikin gue tertarik adalah warnanya. Dengan warna dasar hitam terus ditumpuk sama plastik warna putih ngebuat jadi berkesan keren. Gue sebagai penggemar fanatik warna hitam-putih nggak mau kehilangan kesempatan ini. Gue kasih nama kacamata itu Si Bianco (bahasa Italia dari "putih'". Berasa keren gitu pake bahasa Itali)

Gue salah BESAR!

Gue kira si Bianco langsung gue pake dan dibawa pulang. Tapi ternyata gue harus nunggu proses pembuatan lensanya. "Paling cepet seminggu." Kata si Pemilik Optik tadi. Karena hari Seninnya gue Ujian, gue dengan sangat sangat sangat terpaksa akhirnya memakai kacamata cadangan. Si Pec Mk.II

Pec Mk.II

DAAAAAAN... Akhirnya setelah menunggu seminggu, Bianco ahirnya bisa bersanding di kepala gue,Gara-gara gue make Bianco, tingkat kecupuan gue berkurang 1%. Yah, lumayan untuk orang yang cupunya 90%. Oiya kalian dapet salam dari Bianco, dia sekarang lagi nemenin gue nulis paragraf terkahir ini. Untuk Pec, selamat tinggal, hati-hati disana, terimakasih sudah menemani  gue selama 5 tahun ini. Pec, terimakasih.

Selamat Sabtu malam!

Tulisan ini didedikasikan untuk
Spectacle, si Kacamata
2010-2015